
Foto : AP News
Penulis: Fityan
TVRINews – Washington
Trump sebut pemberian pesawat jumbo dari Qatar sebagai langkah "hemat biaya" meski menuai kritik etik dan tudingan pengaruh asing.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapannya menerima pesawat mewah Boeing 747-8 dari keluarga kerajaan Qatar dalam kunjungan kenegaraannya ke Timur Tengah pekan ini. Pesawat tersebut disebut akan digunakan sebagai pengganti sementara Air Force One, meskipun belum ada keputusan final dari pihak Qatar.
Trump membela langkah itu dengan menyebutnya sebagai solusi "hemat biaya" untuk menggantikan pesawat kepresidenan AS yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. “Jadi, fakta bahwa Departemen Pertahanan mendapat HADIAH, GRATIS, sebuah pesawat 747 untuk menggantikan Air Force One yang sudah berusia 40 tahun, secara publik dan transparan, sangat mengganggu Demokrat Korup yang malah menyarankan kita membayar MAHAL untuk pesawat itu,” tulis Trump di media sosial pribadinya pada Minggu (11/5) malam waktu setempat
Menurut laporan ABC News, pesawat itu akan digunakan Trump hingga mendekati akhir masa jabatannya pada Januari 2029, sebelum kepemilikannya diserahkan kepada yayasan yang akan mengelola perpustakaan kepresidenannya. Hadiah ini rencananya akan diumumkan saat Trump berkunjung ke Qatar, bagian dari rangkaian perjalanan luar negeri pertamanya dalam masa jabatan kedua.
Namun, Pemerintah Qatar melalui juru bicara medianya, Ali Al-Ansari, menyatakan bahwa rencana transfer pesawat tersebut masih dalam tahap kajian hukum antara Kementerian Pertahanan Qatar dan Departemen Pertahanan AS. “Belum ada keputusan yang dibuat,” ujarnya.
Gedung Putih telah menyiapkan analisis hukum guna mengantisipasi kritik etik, termasuk potensi pelanggaran Emoluments Clause dalam Konstitusi AS, yang melarang pejabat negara menerima hadiah atau gelar dari pemerintah asing tanpa persetujuan Kongres.
Pengamat etika pemerintahan, Kathleen Clark dari Washington University, menuding Trump menggunakan kekuasaan negara bukan untuk kepentingan kebijakan, melainkan demi keuntungan pribadi. Sementara itu, Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer menyindir tajam, “Tidak ada yang lebih mencerminkan 'America First' selain Air Force One dari Qatar.”
Sejumlah tokoh konservatif juga menyuarakan kekhawatiran, terutama terkait risiko keamanan bila pesawat pemberian asing digunakan Presiden AS. Meski pesawat Qatar tersebut akan dilengkapi sistem komunikasi dan perlindungan, kemampuannya dinilai masih di bawah Air Force One yang telah dimodifikasi khusus dengan teknologi anti rudal dan pelindung radiasi.
Jordan Libowitz dari Citizens for Responsibility and Ethics in Washington menyebut hadiah pesawat ini sebagai tindakan “belum pernah terjadi sebelumnya.” Ia mempertanyakan apakah kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah akan netral jika Trump dipengaruhi oleh hadiah dan kepentingan bisnisnya.
Diketahui, Trump Organization yang kini dikelola oleh anak-anak Trump memiliki kepentingan bisnis besar di kawasan Timur Tengah, termasuk proyek resor golf mewah baru di Qatar, hasil kemitraan dengan perusahaan properti milik negara, Qatari Diar.
Mengutuip dari Associated Press News, Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt membantah tudingan bahwa kebijakan Trump terpengaruh bisnis keluarganya. Ia menyebut tuduhan itu “menggelikan” dan menegaskan bahwa Trump tidak melakukan apa pun demi keuntungan pribadi.
Namun, fakta bahwa etika bisnis keluarga presiden telah berubah dibanding masa jabatan pertamanya dengan kini diizinkannya kesepakatan dengan perusahaan asing menjadi sorotan baru mengenai batas antara kebijakan publik dan kepentingan pribadi di Gedung Putih.
Baca Juga: 68 Juta Warga Filipina Memilih di Tengah Memanasnya Konflik Marcos vs Duterte
Editor: Redaktur TVRINews
