TVRINews - Kanada
Pemerintah federal Kanada mengerahkan bantuan darurat setelah gelombang kebakaran hutan hebat memaksa ribuan warga di British Columbia mengungsi akibat eskalasi api yang bergerak cepat.
Pemerintah federal Kanada resmi mengumumkan intervensi darurat guna membantu penanganan bencana kebakaran hutan di Provinsi British Columbia Minggu 9 Agustus 2026.
Langkah cepat ini diambil menyusul situasi krisis setelah puluhan titik api berkobar di tengah kondisi cuaca ekstrem, memaksa puluhan ribu penduduk meninggalkan kediaman mereka.
Berdasarkan laporan dari BC Wildfire Service, tercatat ada 102 titik api yang aktif di seluruh wilayah provinsi tersebut. Hampir dari separuh total kebakaran dikategorikan berada di luar kendali.
Kondisi ini diperparah oleh gelombang panas berkepanjangan serta minimnya curah hujan selama enam pekan terakhir di kawasan Pasifik Barat Laut.
Menteri Manajemen Darurat dan Ketahanan Komunitas Kanada, Eleanor Olszewski, menyatakan bahwa pihaknya telah menyetujui permohonan bantuan federal dari pemerintah provinsi.
Fokus utama penanganan saat ini adalah penyediaan tempat perlindungan serta akomodasi bagi para pengungsi.
"Saya telah mengesahkan permintaan bantuan federal dari British Columbia untuk menyediakan tempat berlindung serta akomodasi bagi warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka," ujar Eleanor melalui pernyataan resmi.
Ia menambahkan bahwa pusat operasi pemerintah di bawah Public Safety Canada telah diinstruksikan untuk berkoordinasi secara intensif dengan otoritas lokal.
Salah satu titik kebakaran paling mengkhawatirkan adalah Kebakaran Bald Range. Dalam kurun waktu beberapa jam setelah terdeteksi, api membakar area seluas lebih dari 100 kilometer persegi dan bergerak cepat mendekati Danau Okanagan.
Perdana Menteri British Columbia, David Eby, bahkan mendeklarasikan status darurat wilayah dan menggambarkan kedahsyatan api tersebut layaknya ledakan bom.
Direktur Operasi Provinsi BC Wildfire Service, Cliff Chapman, mengungkapkan bahwa kombinasi cuaca panas dan kering memicu karakteristik kebakaran yang belum pernah disaksikan sebelumnya.
Ancaman badai petir yang membawa kilat dikhawatirkan semakin memperburuk situasi di lapangan.
Di tengah situasi pelik ini, para ahli menyoroti pergeseran pola bencana akibat perubahan iklim global. Professor Ilmu Kebakaran Hutan dari Thompson Rivers University, Mike Flannigan, menjelaskan bahwa intensitas dan kecepatan rambat api saat ini jauh melampaui standar historis.
"Kita melihat kebakaran dengan intensitas lebih tinggi hari ini dibandingkan masa lalu. Semakin singkat jangka waktunya, semakin besar tantangan yang dihadapi," ungkap Mike Flannigan dalam analisisnya mengenai krisis iklim yang melanda kawasan tersebut.
Menurut Mike, fenomena kebakaran kini tidak lagi mengenal waktu istirahat malam hari akibat kekeringan ekstrem dan energi panas yang tersimpan, memaksa tim pemadam menggunakan teknologi helikopter pengintai malam. Otoritas setempat memperkirakan musim darurat kebakaran ini berpotensi berlanjut hingga musim gugur mendatang, menuntut kesiagaan penuh dari seluruh masyarakat di wilayah terdampak.









