
dok. Screenshoot Postingan Akun Instagram Menteri Luar Negeri (Menlu) @Sugiono_56
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa kredibilitas ASEAN sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan fragmentasi ekonomi global.
Hal tersebut disampaikan Menlu Sugiono dalam Pertemuan Para Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Foreign Ministers’ Meeting/AMM) yang digelar di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia, Minggu, 25 Mei 2025, sebagai bagian dari rangkaian KTT ke-46 ASEAN.
“ASEAN akan dinilai dari kemampuannya menjaga perdamaian di kawasan. Stabilitas kawasan adalah kunci utama,” ujar Sugiono dalam keterangan yang dikutip, Minggu, 25 Mei 2025.
Dalam pertemuan tersebut, Sugiono menyoroti pentingnya ASEAN memperbarui komitmen terhadap Treaty of Amity and Cooperation (TAC), yang menjadi dasar bagi arsitektur perdamaian regional. Ia mendorong agar langkah-langkah yang diambil bersifat substantif, bukan hanya prosedural, terutama menjelang peringatan 50 tahun TAC pada 2026.
Terkait hubungan ASEAN dengan mitra eksternal, Menlu Sugiono menekankan pentingnya menjaga sentralitas dan relevansi ASEAN. Ia mendorong adopsi dokumen ASEAN Decision on Enhancing Relations with External Partnerssebagai panduan dalam memperkuat kemitraan strategis ASEAN dengan pihak luar.
“Kemitraan ASEAN harus tetap fokus dan berjalan dalam kerangka yang dipimpin ASEAN,” tegasnya.
Dalam pembahasan mengenai keanggotaan penuh Timor-Leste di ASEAN, Indonesia kembali menyuarakan dukungan penuh terhadap adopsi pedoman aksesi instrumen hukum ASEAN oleh negara tersebut.
“Timor-Leste telah menunjukkan kemajuan signifikan. Proses aksesi harus bersifat praktis dan mendorong integrasi, bukan menghambatnya,” kata Sugiono.
Ia juga menyerukan solidaritas dan dukungan teknis berkelanjutan dari seluruh anggota ASEAN untuk membantu proses integrasi Timor-Leste menjadi anggota ke-11 ASEAN.
Mengenai krisis di Myanmar, Sugiono menilai situasi yang terjadi telah menjadi ancaman nyata bagi stabilitas kawasan. Ia mendorong upaya nyata untuk menghentikan kekerasan dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi dialog inklusif.
“Harga dari tidak bertindak sangatlah mahal. Kita harus bersatu membantu Myanmar menemukan perdamaian dengan pendekatan yang dipimpin dan dimiliki oleh Myanmar sendiri,”ucapnya.
Pertemuan AMM kali ini dihadiri oleh para Menlu negara-negara anggota ASEAN, termasuk Timor-Leste dan Sekretaris Jenderal ASEAN. Delegasi Myanmar hadir tanpa perwakilan politik.
Dalam pertemuan tersebut, ASEAN secara resmi mengadopsi Guidelines to Facilitate Timor-Leste’s Accession to ASEAN Legal Instruments dan Addendum to the SEANWFZ Treaty (Perjanjian Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara).
Baca Juga: Tesla Bangkrut di Pemerintahan Trump?
Editor: Redaksi TVRINews
