
Vietnam Tak Punya Pilihan Selain berdamai dengan AS ? Efek Tarif Trump
Penulis: Fityan
TVRINews — Ho Chi Minh City, Vietnam
Suasana di kantor Kieu Quoc Thanh, CEO perusahaan ekspor mete SVC Group, berubah menjadi penuh kecemasan dalam dua pekan terakhir. Sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif "resiprokal" pada 2 April lalu, para eksportir Vietnam seperti Thanh merasa seperti berada dalam pusaran ketidakpastian.
Sebuah kontainer mete milik Thanh kini terkatung-katung di pelabuhan, tak jelas apakah akan dikenakan tarif 10 persen atau 46 persen saat masuk pasar AS.
Tarif 46 persen yang diumumkan Trump, walau saat ini ditangguhkan selama 90 hari—berpotensi menghantam keras perekonomian Vietnam yang sangat bergantung pada ekspor, terutama ke Amerika Serikat. Pasar Negeri Paman Sam menyumbang hampir 30 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam pada 2023.
Kondisi ini membuat pemerintah Hanoi bergerak cepat. Dalam upaya menjaga akses pasar dan meredam ancaman tarif tinggi, Vietnam mulai membuka diri untuk negosiasi dagang dengan AS sejak 10 April. Dalam waktu bersamaan, mereka juga melakukan serangkaian pendekatan ekonomi-politik: mulai dari pembelian pesawat Boeing, LNG, hingga membuka jalur kerja sama untuk pengadaan pesawat kargo C-130 dari Lockheed Martin.
Vietnam bahkan memberikan izin uji coba layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk dan menandatangani kesepakatan investasi senilai $1,5 miliar dengan Trump Organization untuk pembangunan proyek hotel dan lapangan golf di provinsi asal Sekjen Partai Komunis Vietnam, To Lam.
To Lam sendiri menjadi salah satu pemimpin asing pertama yang menelepon Trump pasca pengumuman tarif, bahkan mengirim delegasi khusus ke Washington. Ia juga menyatakan kesiapan Vietnam untuk menurunkan tarif terhadap barang-barang asal AS hingga nol persen.
"Tak ada pilihan lain bagi Vietnam selain berdamai dengan AS agar tetap punya akses ke pasar mereka," ujar Nguyen Khac Giang, peneliti tamu di ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura.
Namun tekanan dari Amerika bukan satu-satunya dinamika yang sedang dimainkan. Pada saat bersamaan, Presiden China Xi Jinping melakukan kunjungan lima hari ke Asia Tenggara dan disambut meriah di Hanoi, lengkap dengan salvo 21 tembakan kehormatan di Istana Kepresidenan Vietnam. Kunjungan ini dipandang sebagai upaya China merebut simpati sebagai mitra dagang yang lebih stabil daripada AS.
Trump bereaksi sinis, mengatakan bahwa pertemuan Xi dengan pemimpin Vietnam “seperti sedang merencanakan bagaimana cara menipu Amerika Serikat.”
Xi bahkan terang-terangan mendorong Vietnam untuk “menolak perundungan sepihak” dan menjanjikan pasar China yang “selalu terbuka.”
Selama kunjungan tersebut, China dan Vietnam menandatangani 45 perjanjian baru, meski rincian kerja samanya belum dipublikasikan secara lengkap.
Bagi pelaku usaha seperti Thanh, kondisi ini ibarat hidup dalam episode realitas yang tak berujung.
"Semua berubah setiap hari, seperti reality show," ujar Tyler Manh Dung Nguyen, kepala strategi pasar dari Ho Chi Minh City Securities Corporation.
Sementara itu, pengusaha asing seperti Bruno Jaspaert, Direktur Utama DEEP C Industrial Zones di Haiphong, melihat bahwa harapan Vietnam untuk memperbaiki defisit perdagangan dengan AS (yang mencapai $123,5 miliar pada 2024) tampaknya mustahil. “Formula tarif mereka itu konyol, takkan pernah bisa seimbang,” katanya.
Meski Vietnam terlihat terpojok, beberapa analis menilai masih ada peluang terselubung. Kembali memanasnya tensi dagang AS-Tiongkok, justru bisa mendorong lebih banyak investor dan pabrik asing bermigrasi ke Vietnam demi menghindari risiko geopolitik.
“Pertarungan sejatinya adalah antara AS dan China. Tapi dalam kekacauan ini, Vietnam bisa saja menjadi pemenang,” ujar Craig Martin, Chairman Dynam Capital, sebuah firma investasi di Ho Chi Minh City.
Vietnam juga mendapat tekanan untuk menghentikan praktik transhipment, yaitu pengiriman barang China yang hanya melalui Vietnam secara simbolis sebelum masuk ke pasar AS. Hal ini mendorong Vietnam untuk mulai berinvestasi dalam industri manufaktur bernilai tambah yang lebih tinggi.
“Dalam jangka menengah hingga panjang, ini justru bisa memperkuat posisi industri Vietnam,” tambah Nguyen.
Reuters baru-baru ini melaporkan bahwa Vietnam bersedia memperketat aturan ekspor dan menindak pengiriman ilegal barang-barang China yang dilabeli "Made in Vietnam".
Bruno Jaspaert bahkan menyebut krisis tarif ini sebagai "peluang emas" bagi Eropa untuk memperluas kerja sama perdagangan dengan Vietnam.
"Vietnam selalu menang dalam setiap perang yang mereka jalani. Saya percaya, mereka juga akan menang dalam perang tarif ini,” tegas Jaspaert optimistis.
Baca Juga: Senator Van Hollen Tantang Trump dan Bukele
Editor: Redaktur TVRINews
