TVRINews-Beirut
Militer Israel menetapkan wilayah selatan Sungai Zahrani sebagai zona tempur, memicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata setelah gelombang serangan udara baru menghantam Kota Tyre dan sekitarnya.
Ketegangan di wilayah perbatasan Timur Tengah kembali memanas setelah militer Israel (IDF) mengeluarkan perintah evakuasi skala besar yang mencakup hampir 14 persen wilayah Lebanon, menyusul keputusan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memperluas operasi darat setelah menuduh kelompok Hizbullah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Eskalasi terbaru ini menandai perintah evakuasi terbesar sejak gencatan senjata yang sempat berlaku pada 17 April lalu. Pihak IDF mendesak warga sipil di sekitar 300 kota dan desa untuk segera bergerak ke utara menjauhi Sungai Zahrani, sebuah kawasan yang berjarak sekitar 40 kilometer dari garis perbatasan.
Gelombang Serangan dan Krisis Kemanusiaan
Tak lama setelah peringatan evakuasi dikeluarkan, gelombang serangan udara langsung menghantam Kota Tyre Rabu 27 Mei malam waktu setempat, salah satu pusat populasi terbesar di Lebanon Selatan.
Saksi mata melaporkan kepanikan massal terjadi saat ledakan demi ledakan mulai mengguncang sudut-sudut kota.
Kondisi psikologis warga di zona konflik kini berada di titik nadir. Rida (52), seorang pemilik kafe lokal yang sebelumnya kehilangan rumah dan tempat usahanya tepat sebelum gencatan senjata bulan lalu, menggambarkan situasi mencekam di lapangan.
"Saya pergi ke pelabuhan dekat pantai dan melihat kerumunan massa di sana. Semua orang mengemas barang-barang mereka dalam ketakutan," ujar Rida saat dihubungi melalui sambungan telepon oleh BBC News.
Eksodus massal ini memicu kekhawatiran baru di sektor kemanusiaan. Badan-badan bantuan menyatakan bahwa Kota Sidon, yang terletak di pesisir selatan Beirut, kini sudah tidak mampu lagi menampung arus pengungsi yang terus berdatangan.
Otoritas setempat mengimbau warga yang melarikan diri untuk mengalihkan tujuan ke wilayah Lembah Bekaa atau Gunung Lebanon di bagian timur.
Saling Tuding Pelanggaran Gencatan Senjata
Ketegangan di lapangan juga diiringi dengan pertempuran jarak dekat. Pihak Hizbullah mengonfirmasi bahwa pasukannya sempat terlibat kontak senjata sengit dengan tentara Israel di kawasan Zawtar al-Sharqiyeh, sebuah wilayah di utara Sungai Litani yang sebenarnya berada di luar zona penyangga teritorial Israel.
Perluasan operasi ini ditegaskan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam rapat kabinet. Menurutnya, tindakan tegas harus diambil demi menjamin keamanan warga di wilayah Israel utara dari ancaman pesawat nirawak (drone) Hizbullah.
"Kami memperkuat zona keamanan guna melindungi komunitas di wilayah utara," tegas Netanyahu dalam keterangannya.
Sebaliknya, pemerintah Lebanon menuding balik bahwa rangkaian serangan udara Israel yang massif termasuk lebih dari 150 serangan dalam kurun waktu 24 jam terakhir merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya telah diperpanjang dua kali.
Dampak Korban Jiwa dan Diplomasi Geopolitik
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas akibat pemboman, termasuk 15 korban jiwa di kota Burj al-Shamali.
Secara akumulatif, otoritas kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 3.213 orang telah gugur sejak konflik ini pecah pada 2 Maret silam, di mana data tersebut mencakup gabungan antara warga sipil dan milisi. Di sisi lain, pihak Israel mengonfirmasi kehilangan 23 tentara dan empat warga sipil dalam periode konflik yang sama.
Konflik bersenjata ini awalnya terpicu ketika Hizbullah melepaskan rentetan roket ke wilayah Israel sebagai aksi balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran akibat serangan Israel.
Eskalasi militer yang kembali memuncak ini dikhawatirkan dapat menggagalkan proses negosiasi diplomatik sensitif yang tengah dimediasi oleh Amerika Serikat, Israel, dan Iran untuk menyepakati perdamaian komprehensif di kawasan tersebut.










