TVRINews – Washington DC
Komando Pusat AS Sebut Serangan Defensif Dilakukan Setelah Drone Targetkan Kapal Komersial
Militer Amerika Serikat meluncurkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran pada Rabu 27 Mei 2026 waktu setempat. Operasi ini menyasar satu situs militer yang dinilai memberikan ancaman langsung terhadap pasukan AS serta jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Dalam pernyataan resminya, otoritas militer Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa penindakan ini diambil demi menjaga stabilitas keamanan di jalur logistik global tersebut.
"Hari ini, Pasukan Komando Pusat AS (CENTCOM) menembak jatuh empat pesawat nirawak (drone) penyerang satu arah milik Iran yang mengancam kawasan di sekitar Selat Hormuz," ujar seorang pejabat resmi AS dalam keterangannya.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa operasi militer tidak berhenti pada intersepsi di udara. "Pasukan AS juga menggempur sebuah stasiun kendali darat milik Iran di Bandar Abbas yang bersiap meluncurkan drone kelima. Langkah-langkah ini terukur, murni bersifat defensif, dan ditujukan untuk mempertahankan gencatan senjata," tuturnya.
Berdasarkan laporan yang dihimpun oleh Axios, armada drone yang berhasil dilumpuhkan tersebut diduga kuat tengah membidik sebuah kapal komersial milik Amerika Serikat yang sedang melintasi Selat Hormuz.
Kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur urat nadi distribusi minyak dunia memang terus bergolak. Sejak eskalasi konflik dengan Iran pecah, setidaknya telah terjadi dua lusin insiden serangan di dalam dan sekitar selat strategis tersebut. Blokade de facto yang diterapkan Teheran lewat serangkaian serangan dan ancaman konstan terhadap kapal-kapal kargo serta tanker, sempat melumpuhkan aktivitas pelayaran internasional di sana.
Eskalasi di Bandar Abbas
Operasi pada hari Rabu 27 Mei menyusul aksi "serangan bela diri" serupa yang diluncurkan militer AS pada Senin lalu terhadap kapal-kapal Iran yang dilaporkan tengah memasang ranjau laut di Selat Hormuz.
Selain melumpuhkan armada laut, serangan sebelumnya juga berhasil menghancurkan situs rudal permukaan-ke-udara milik Iran di Bandar Abbas. Berdasarkan data dari CENTCOM, situs rudal yang berada di pangkalan angkatan laut utama Iran tersebut kedapatan membidik pesawat-pesawat tempur AS.
Diplomasi di Tengah Ketegangan
Konfrontasi bersenjata ini terjadi di momen yang sangat krusial. Saat ini, para negosiator dari pihak AS dan Iran justru tengah bekerja keras merampungkan nota kesepahaman (MoU).
Kesepakatan tersebut diproyeksikan untuk membuka kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz tanpa beban tarif, sekaligus memberikan waktu tambahan bagi kedua belah pihak guna menegosiasikan nasib cadangan uranium Iran yang diperkaya tinggi.
Kendati jalur diplomasi tetap terbuka, tensi politik di Washington tetap menunjukkan nada tinggi. Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras bahwa Washington siap mengambil opsi pamungkas jika klausul perdamaian menemui jalan buntu.
"Jika kesepakatan tidak tercapai, kami terpaksa harus menyelesaikan tugas ini secara militer," ujar Presiden Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih, rabu 27 mei.
Presiden Trump juga mengkritik strategi rezim Teheran yang dinilainya keliru dalam mengulur waktu. Menurutnya, posisi tawar Iran kini melemah secara signifikan pasca-lumpuhnya kekuatan angkatan udara, angkatan laut, serta gugurnya sejumlah pemimpin kunci mereka sejak serangan awal gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
"Saya melihat tampaknya mereka hanya ingin membuat kesepakatan sekarang. Saya rasa mereka tidak punya pilihan lain," pungkas Trump.










