
Warga Palestina berjalan untuk mengambil bantuan dari Gaza Humanitarian Foundation yang didukung oleh AS dan Israel, di Khan Younis, Gaza Selatan, [Foto : Reuters].
Penulis: Fityan
TVRINews – Gaza
Ratusan warga Palestina tewas dan ribuan terluka saat berebut bantuan makanan dari lembaga yang didukung AS dan Israel, di tengah kelaparan massal akibat blokade.
Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kembali menorehkan luka mendalam. Kementerian Kesehatan Gaza pada Sabtu (5/7) melaporkan bahwa sedikitnya 743 warga Palestina tewas dan lebih dari 4.891 orang terluka dalam beberapa pekan terakhir saat mencoba mendapatkan bantuan makanan dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF) lembaga distribusi bantuan yang didukung oleh pemerintah Amerika Serikat dan Israel.
Menurut laporan langsung jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, angka tersebut kemungkinan masih “konservatif” karena hanya mencakup korban di titik distribusi bantuan. “Tragedi ini terjadi karena mereka hanya ingin makan. Mereka mengantri untuk satu paket makanan, dan malah menjadi target tembakan,” ujar Mahmoud dari Gaza City.
Di tengah blokade yang diberlakukan Israel sejak Oktober lalu, rakyat Gaza kini menghadapi kelaparan ekstrem. Banyak keluarga yang berpuasa paksa, dengan para ibu rela tidak makan demi anak-anak mereka.
“Anak-anak saya belum makan selama tiga hari,” kata Majid Abu Laban, seorang warga Gaza yang terluka saat mencoba mengakses bantuan di koridor militer Israel, Netzarim. “Kami mencoba membodohi anak-anak dengan segala cara, tapi mereka benar-benar kelaparan,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Namun, upaya mendapatkan bantuan pun menjadi taruhan nyawa. Laporan Associated Press mengutip pengakuan kontraktor Amerika yang menyatakan bahwa petugas bersenjata di GHF melepaskan tembakan dan granat ke arah warga sipil Palestina. Meskipun GHF membantah laporan tersebut, organisasi hak asasi manusia internasional menuntut penutupan segera lembaga tersebut.
Amnesty International mengecam keras GHF sebagai “skema militerisasi yang mematikan dan tidak manusiawi”. Amnesty menyebut lembaga itu justru “menjadi alat baru dalam genosida Israel terhadap warga Palestina”.
Meski demikian, bagi warga Gaza yang kehabisan pilihan, GHF tetap menjadi satu-satunya harapan sekalipun di bawah bayang-bayang peluru.
Sementara itu, dua kontraktor asal AS dilaporkan terluka dalam serangan granat di Khan Younis, Gaza Selatan. Tidak jelas siapa yang bertanggung jawab atas insiden tersebut, namun GHF menyatakan keduanya dalam kondisi stabil.
Dukungan terhadap GHF terus mengalir dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang pada akhir Juni lalu menggelontorkan dana langsung sebesar $30 juta (sekitar Rp488 miliar) untuk mendukung operasi lembaga tersebut. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyebut GHF sebagai “satu-satunya entitas yang berhasil menyalurkan bantuan ke Gaza”.
Namun, bagi warga Palestina seperti Abu Laban, kenyataannya sangat berbeda: “Kami hanya ingin memberi makan anak-anak kami. Jika harus mati untuk itu, maka biarlah. Tapi dunia harus tahu, kami kelaparan, dan kami dibantai saat mencoba bertahan hidup.” ucapnya
Editor : Redaksi TVRINews
Baca Juga: Dua Serangan Terkoordinasi Tewaskan 10 Tentara Niger, 41 Militan Jihadis Dilumpuhkan
Editor: Redaksi TVRINews
