TVRINews – Miami
Tim investigasi fokus pada evakuasi korban jiwa menyusul insiden pesawat kargo Boeing 767 yang keluar jalur di Bandara Internasional Miami.
Insiden kecelakaan pesawat kargo yang disewa oleh raksasa e-commerce Amazon di Bandara Internasional Miami, Amerika Serikat, masih menyisakan duka mendalam. Otoritas keselamatan penerbangan setempat mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas akibat peristiwa nahas tersebut kini mencapai lima jiwa, dengan lima orang lainnya mengalami luka-luka serius.
Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (National Transportation Safety Board atau NTSB) menyatakan bahwa prioritas utama tim saat ini bukanlah investigasi teknis, melainkan evakuasi dan pencarian korban.
Pesawat Boeing 767-300 yang dioperasikan oleh maskapai 21 Air tersebut dilaporkan keluar landasan (overshoot) pada hari Minggu 6 september 2026 waktu setempat, sebelum akhirnya menabrak sejumlah kendaraan di sekitar perimeter bandara.
Ketua NTSB, Jennifer Homendy, dalam keterangan persnya di Bandara Internasional Miami pada hari Senin 7 september 2026, mengungkapkan keprihatinannya atas skala kerusakan di lokasi kejadian. Ia menyebut pemandangan di tempat kejadian perkara sangat memilukan dan menyulitkan tugas para petugas penyelamat pertama.
"Prioritas kami saat ini adalah pemulihan korban. Penyelidikan dan akses terhadap bangkai pesawat, serta barang bukti lainnya, dapat menunggu," ujar Homendy menegaskan, sebagaimana dilansir dari laporan BBC News dan Reuters.
Berdasarkan data awal, pesawat kargo tersebut membawa dua awak dan sedang melakukan penerbangan ketiganya hari itu dari San Juan, Puerto Riko. Ketika melewati batas landasan, pesawat menabrak peralatan navigasi, menimpa sebuah van putih milik perusahaan pembersih kontrak yang membawa tujuh penumpang, serta menghantam sebuah mobil Toyota Corolla sebelum akhirnya berhenti sekitar 1.300 kaki di luar area landasan pacu.
Meskipun demikian, tim penyelamat dan investigator telah berhasil mengamankan dua komponen penting pesawat, yaitu perekam data penerbangan (flight data recorder) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder). Kedua perangkat krusial tersebut kini telah dikirimkan ke kantor pusat NTSB untuk dianalisis lebih lanjut guna mengungkap tabir di balik tragedi ini.
Homendy menambahkan bahwa lembaganya masih berada di tahap awal pengumpulan fakta dan terlalu dini untuk menyimpulkan penyebab pasti kecelakaan. Tim investigasi akan menyelidiki riwayat penerbangan, pengalaman serta pelatihan kru, data radar, performa mesin, hingga kondisi cuaca saat pendaratan. Sebelumnya, analisis BBC Verify mencatat adanya aktivitas badai petir di dekat bandara sesaat sebelum insiden dengan embusan angin mencapai 26 knot.
Selain itu, NTSB juga akan mengevaluasi infrastruktur bandara, termasuk ketiadaan sistem penahan material rekayasa (engineered materials arresting system atau EMAS) yang seharusnya dapat memperlambat laju pesawat yang keluar jalur. Pihak NTSB turut membuka jalur bagi masyarakat yang memiliki rekaman foto atau video untuk membantu jalannya penyelidikan.
Pihak manajemen Amazon menyatakan duka yang mendalam atas hilangnya nyawa dalam insiden ini dan berkomitmen untuk bekerja sama secara penuh dengan pihak berwenang. Senada dengan Amazon, pihak maskapai 21 Air juga menyampaikan belasungkawa serta siap kooperatif selama proses investigasi berlangsung.
Akibat kecelakaan ini, operasional penerbangan di Bandara Internasional Miami sempat mengalami gangguan menyusul penutupan dua dari empat landasan pacu yang tersedia.










