Penulis: Fityan
TVRINews – Khan Younis
Hidup di Tenda dan Berjuang Mencari Makan untuk Keluarga, Jurnalis Berpengalaman Ini Terus Mengabarkan Penderitaan Warga Sipil Hingga Akhir Hayatnya
Hussam al-Masri, jurnalis Reuters berusia 49 tahun, tewas akibat serangan militer Israel saat tengah bertugas di Rumah Sakit Nasser, Gaza, pada hari Senin(25/8) . Di tengah kondisi hidup yang serba sulit, ia terus berjuang menyuarakan kisah-kisah kemanusiaan dari wilayah konflik.
Menurut rekan-rekan jurnalisnya, Masri dikenal sebagai sosok yang selalu optimis, bahkan dalam situasi paling berbahaya sekalipun. "Besok akan lebih baik," adalah kalimat yang sering ia ucapkan, menjadi mantra harapan di tengah kondisi Gaza yang kian memburuk.
Mohamed Salem, seorang jurnalis senior Reuters yang telah mengenal Masri sejak 2003, mengatakan bahwa semangat positif Masri membuatnya menjadi rekan kerja yang menyenangkan. "Optimisme dan senyumnya membuat dia menjadi orang yang menyenangkan untuk diajak bekerja sama," kata Salem, yang masih berkomunikasi dengan Masri hingga pagi hari sebelum insiden nahas itu terjadi.
Kehilangan Masri sangat dirasakan oleh seluruh tim Reuters. "Hussam sangat berdedikasi untuk menceritakan kisah Gaza kepada dunia," ungkap Pemimpin Redaksi Reuters, Alessandra Galloni.
"Dia kuat, tabah, dan berani dalam keadaan yang paling menantang. Kehilangan dirinya sangat dirasakan oleh semua orang di ruang berita ini yang bekerja dengannya."

Jasad Masri ditemukan bersama kameranya di sebuah tangga luar rumah sakit, tempat ia tengah melakukan siaran langsung yang menampilkan pemandangan Khan Younis saat serangan Israel menghantam lokasi tersebut.
Serangan kedua yang terjadi beberapa menit kemudian di tempat yang sama menewaskan setidaknya 19 orang, termasuk empat jurnalis dari media lain seperti Associated Press dan Al Jazeera.
Juru bicara militer Israel pada hari Selasa(27/8) menyatakan bahwa jurnalis Reuters dan Associated Press "bukanlah target serangan." Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga menyatakan penyesalannya atas "kecelakaan tragis" yang terjadi di rumah sakit.
Namun, Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat insiden ini menambah daftar panjang jurnalis Palestina yang tewas dalam perang di Gaza. Hingga saat ini, CPJ mendokumentasikan total 189 jurnalis Palestina yang tewas akibat serangan Israel. Mereka menyerukan agar komunitas internasional meminta pertanggungjawaban Israel atas insiden ini dan menekankan bahwa "para pelaku tidak boleh lagi dibiarkan bertindak tanpa hukuman."
Semangat jurnalistik Masri didorong oleh keinginannya untuk menunjukkan kepada dunia apa yang terjadi di Gaza. "Ini adalah peran Hussam di media: menyampaikan kebenaran kepada dunia," ujar saudaranya, Ezzeldin al-Masri. "Kamera merekam, baik untuk maupun melawan kami. Kamera merekam apakah ada milisi Palestina atau pasukan pendudukan Israel."
Keluarga Masri juga menjadi korban konflik. Mereka terpaksa mengungsi dari rumahnya di Khan Younis setelah Israel memerintahkan evakuasi warga sipil. Rumah mereka kemudian diketahui hancur akibat serangan. Dalam sebuah video yang ia bagikan, Masri menggambarkan kesedihannya atas kehancuran rumah dan lingkungannya.

"Tidak ada yang tersisa selain puing-puing yang kami tangisi," ujarnya. Sejak Juli tahun lalu, keluarga ini kembali ke Khan Younis dan tinggal di sebuah tenda.
Masri mulai bekerja sebagai jurnalis kontrak untuk Reuters di Rafah pada Mei 2024. Ia bertanggung jawab untuk siaran langsung dari kamp-kamp pengungsian dan merekam bantuan kemanusiaan yang masuk melalui perbatasan Rafah.
Sejak kembali ke Khan Younis, ia bertanggung jawab atas siaran langsung dari Rumah Sakit Nasser, yang menjadi sumber informasi penting bagi klien-klien media Reuters di seluruh dunia.
"Hussam telah melakukan tugas yang melelahkan ini setiap hari selama berbulan-bulan," kata Labib Nasir, editor visual Reuters untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.
Dalam percakapan terakhirnya dengan Salem, Masri menggambarkan betapa sulitnya hidup di Gaza, terutama dalam mencari makanan. Beberapa jam kemudian, sebuah foto yang diambil oleh Reuters menunjukkan jasadnya tergeletak di atas tandu.
Baca juga: Trump Izinkan 600.000 Mahasiswa Ke AS, Tuai Kecaman dari MAGA
Editor: Redaksi TVRINews
