
Foto: The Guardian
Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei menjadi simbol kekuatan Revolusi Iran. Kini, usianya yang senja, tekanan perang, dan runtuhnya koalisi milisi membuatnya terpojok dengan opsi yang kian menipis.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei muncul di depan publik. Dalam khutbahnya yang dihadiri puluhan ribu orang di sebuah masjid di Teheran, Khamenei dengan tegas menyatakan bahwa "Israel tidak akan bertahan lama." Namun pernyataan keras itu datang di saat yang paling rentan dalam karier politik dan militernya yang panjang.
Pembunuhan Hassan Nasrallah, sekutu dekat dan Sekjen Hizbullah, oleh serangan udara Israel di Beirut, menjadi pukulan pribadi yang mendalam. Hanya beberapa hari setelahnya, serangan udara besar-besaran Israel ke Iran menunjukkan betapa rapuhnya kekuatan yang selama ini dibangun Khamenei dengan tangan besi. Iran membalas dengan rudal dan drone, namun upaya itu tidak menghentikan gempuran Israel. Sistem pertahanan udara Iran gagal total, dan jaringan milisi yang dikenal sebagai "poros perlawanan" (axis of resistance) kini nyaris lumpuh.
"Khamenei selalu pragmatis tapi teguh. Ia tidak suka terjebak dalam situasi tanpa jalan keluar. Tapi hari ini, itulah yang ia hadapi," ujar Karim Sadjadpour, analis senior di Carnegie Endowment for International Peace, dikutip The Guardian.
Baca Juga: Iran Hujani Israel dengan Rudal: Konflik Memanas, 8 Tewas di Hari Ke-4
Dibesarkan dari keluarga ulama kecil di kota suci Mashhad, Khamenei memulai kariernya sebagai aktivis Islam radikal di bawah bayang-bayang Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia pernah menerjemahkan karya-karya pemikir ekstremis seperti Sayyid Qutb dan turut aktif dalam gerakan bawah tanah sebelum Revolusi 1979 menggulingkan Shah Iran. Dari seorang presiden simbolik pada 1981, ia melonjak menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989, setelah kematian Khomeini.
Dalam tiga dekade terakhir, Khamenei memperkuat kekuasaannya melalui Garda Revolusi (IRGC), penindasan terhadap oposisi, dan pengaruhnya dalam milisi-milisi proksi di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. Ia mendukung kebijakan luar negeri berbasis perlawanan terhadap Barat, khususnya Israel dan Amerika Serikat.
Namun kini, strategi itu retak. Kekuatan proksi yang dibina dengan sabar luluh lantak dihantam operasi militer Israel. Hubungan dengan Suriah juga goyah pasca jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir tahun lalu.
Di dalam negeri, tekanan datang dari berbagai penjuru. Gelombang unjuk rasa, ketidakpuasan ekonomi, dan represi brutal terhadap perempuan serta minoritas agama telah menggerus legitimasi rezim. Sementara itu, spekulasi soal suksesi Khamenei kian menguat, seiring dengan kondisi kesehatannya yang melemah.
Meski dikenal hidup sederhana di kompleks Palestina Street, Teheran, dan jauh dari gemerlap kekayaan elite lainnya, reputasi itu tak cukup meredam kemarahan rakyat yang kian menuntut perubahan.
Kini, di usia 84 tahun, sang "pengawal revolusi" tengah menghadapi salah satu ujian terbesar dalam hidupnya: mempertahankan warisan Khomeini di tengah isolasi internasional dan krisis internal yang membuncah.
“Khamenei selalu ingin menjadi penentu takdir, bukan korban situasi. Tapi kali ini, sejarah tak berpihak padanya,” tulis analis Timur Tengah, Martin Chulov dalam The Guardian.
Editor: Redaktur TVRINews
