TVRINews, Tokyo
KBRI Tokyo mencatat sedikitnya 21 kasus terkait kesehatan mental yang melibatkan warga negara Indonesia (WNI) di Jepang hingga Agustus 2026. Angka tersebut mendorong KBRI Tokyo memperkuat upaya pencegahan dan edukasi mengenai kesehatan mental bagi WNI.
Upaya tersebut dilakukan melalui seminar dan workshop bertajuk “Mental Health Care 101: Mengelola Stres, Cemas, Depresi, dan Burnout di Jepang” yang digelar di Tokyo.
Dalam kegiatan tersebut, KBRI Tokyo menghadirkan dr. Ekachaeryanti Zain atau dr. Eka, psikiater WNI sekaligus asisten profesor di Niigata University. Kegiatan serupa sebelumnya juga telah dilaksanakan di Nagoya.
Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Tokyo Dara Yusilawati mengatakan kegiatan tersebut digelar dengan mencermati adanya kasus kesehatan mental di kalangan WNI yang membutuhkan penanganan medis serius.

(Foto: KBRI Tokyo)
“KBRI menyelenggarakan kegiatan ini sebagai upaya pencegahan dan pengelolaan masalah kesehatan mental di kalangan WNI di Jepang. Banyak orang tidak tahu bahwa tinggal dan bekerja di Jepang memiliki tantangan tersendiri. Banyak WNI kita yang sukses bekerja di Jepang, namun tidak sedikit pula yang membutuhkan bantuan,” ujar Dara dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Jumat, 25 September 2026.
Menurut Dara, salah satu kendala yang dihadapi WNI dalam mendapatkan layanan kesehatan mental di Jepang adalah faktor bahasa. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian WNI kesulitan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi ketika berkonsultasi.
“Tidak sedikit WNI yang menyampaikan kesulitan untuk melakukan konsultasi psikologi di Jepang karena harus mengungkapkan masalah mereka dalam bahasa Jepang. KBRI merasa beruntung bertemu dengan Dr. Eka karena berbahasa Indonesia,” kata Dara.
Dr. Eka telah tinggal di Jepang selama lima tahun sehingga memahami sejumlah tantangan yang dihadapi WNI dalam beradaptasi dengan lingkungan dan perbedaan budaya di negara tersebut.
Dalam seminar tersebut, dr. Eka memberikan edukasi mengenai cara menjaga kesehatan mental, memandu peserta melakukan penyaringan mandiri atau self-screening, serta menjelaskan akses bantuan kesehatan mental di Jepang.

(Foto: KBRI Tokyo)
Empat isu utama yang dibahas meliputi stres, burnout, kecemasan, dan depresi. Peserta juga diberi kesempatan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi secara langsung dalam sesi berbagi.
Sejumlah peserta mengungkapkan berbagai persoalan, mulai dari tekanan dari atasan dan rekan kerja yang memicu kecemasan serta burnout, kendala bahasa dan adaptasi budaya, persoalan keluarga, hingga rasa kesepian, stres, kecemasan, dan kehilangan semangat hidup.
Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari WNI yang hadir. Sejumlah peserta menilai forum tersebut membantu mereka memahami kondisi kesehatan mental sekaligus mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika membutuhkan bantuan.

(Foto: KBRI Tokyo)
KBRI Tokyo menyebut angka 21 kasus yang ditangani hingga Agustus 2026 belum menggambarkan keseluruhan kondisi WNI di Jepang. Kasus serupa juga ditangani oleh KJRI Osaka, perusahaan pengirim tenaga kerja, maupun komunitas masyarakat Indonesia di Jepang.
Melalui kegiatan tersebut, KBRI Tokyo berharap WNI dapat lebih mengenali persoalan kesehatan mental sejak dini, mengetahui langkah yang perlu dilakukan, serta memahami akses bantuan yang tersedia di Jepang.










