TVRINews - Beijing
Pasar Bereaksi Skeptis Usai Pernyataan Ambigu Terkait Komitmen Pembelian Pesawat AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada hari Kamis 14 Mei 2026 bahwa China telah sepakat untuk membeli 200 unit pesawat Boeing.
Meski demikian, pernyataan tersebut justru memicu keraguan di kalangan pelaku pasar akibat ambiguitas dalam rincian kesepakatan tersebut.
Dalam sesi wawancara televisi bersama Sean Hannity dari Fox News, Trump mendeskripsikan komitmen tersebut sebagai pesanan "200 unit besar." Namun, sang Presiden kemudian memberikan kualifikasi yang menimbulkan ketidakpastian mengenai status hukum kesepakatan tersebut.
"Itu semacam pernyataan, tapi saya pikir itu adalah sebuah komitmen," ujar Trump.
Sikap hati-hati Trump dalam mendefinisikan kesepakatan ini berdampak instan pada lantai bursa.
Saham Boeing tercatat merosot sekitar 4 persen tak lama setelah kutipan wawancara tersebut dipublikasikan pada pukul 17.00 GMT.
Hubungan Dagang yang Kembali Cair
Jika kesepakatan ini diformalkan, maka hal tersebut akan menandai kebangkitan signifikan dalam hubungan komersial yang telah membeku selama hampir satu dekade. Boeing tercatat belum menerima pesanan signifikan dari otoritas China sejak tahun 2017.
Pada periode tersebut, saat kunjungan kepresidenan Trump ke Beijing, ia berhasil mengamankan kesepakatan untuk 300 unit pesawat yang terdiri dari model lorong tunggal (single-aisle) dan badan lebar (dual-aisle) dengan nilai estimasi mencapai 37 miliar dolar AS.
Spekulasi Volume Pesanan
Klaim Trump mengenai 200 pesawat ini justru berada di bawah ekspektasi yang sempat beredar di media AS menjelang KTT Jenewa.
Sebelumnya, laporan media memproyeksikan angka yang lebih masif, yakni potensi pesanan hingga 500 unit Boeing 737 MAX dan sekitar 100 model pesawat berbadan lebar seperti 787 Dreamliner dan 777.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Boeing belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Presiden tersebut.
Diplomasi Sebagai Kunci Utama
Kehadiran CEO Boeing, Kelly Ortberg, dalam delegasi AS ke Beijing menunjukkan betapa krusialnya hasil diplomatik bagi masa depan perusahaan kedirgantaraan tersebut.
Bulan lalu, Ortberg sempat menyampaikan optimismenya kepada para analis mengenai potensi pesanan dari China, namun ia menekankan bahwa keputusan akhir berada di luar kendali perusahaan.
"Saya pikir hal itu 100 persen bergantung pada negosiasi dan hubungan antara AS-China," tegas Ortberg.
Pesawat model 737 MAX sendiri masih berada di bawah pengawasan ketat di China setelah dua kecelakaan fatal global beberapa tahun lalu.
Meskipun regulator setempat telah memberikan izin terbang, maskapai-maskapai China cenderung lambat dalam mengintegrasikan kembali jet tersebut ke dalam armada mereka.
Pesanan dalam skala besar dari Beijing akan dianggap sebagai mosi percaya yang sangat penting bagi kredibilitas Boeing di pasar Asia.










