TVRINews – Doha
Laporan CPJ mengungkap pola sistematis pembungkaman media di Palestina, Lebanon, dan Suriah melalui kekerasan mematikan.
Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia 3 Mei tahun ini diwarnai dengan catatan kelam bagi pilar demokrasi keempat.
Jurnalis di zona konflik kini bukan lagi sekadar saksi mata, melainkan telah menjadi target langsung dalam serangan militer yang meningkat secara drastis.
Laporan terbaru menunjukkan pola kekerasan yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel terhadap pekerja media di Palestina, Lebanon, dan Suriah.
Menurut data Committee to Protect Journalists (CPJ), entitas pemerintah Israel kini tercatat sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas pembunuhan jurnalis secara sengaja.
Pola Mematikan dan Impunitas
Direktur Regional CPJ untuk Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), Sara Qudah, dalam wawancara eksklusif bersama Qatar News Agency (QNA), mengungkapkan data yang mengejutkan.
Sepanjang tahun lalu, 81 persen dari total jurnalis yang tewas di seluruh dunia dibunuh oleh pasukan Israel.
"Sejak 7 Oktober 2023, kami memverifikasi sedikitnya 64 jurnalis dan pekerja media tewas secara langsung oleh pasukan Israel sebagai pembalasan atas pekerjaan mereka," ujar Qudah.
Ia menambahkan bahwa selama periode 22 tahun, CPJ telah mendokumentasikan "pola mematikan" yang menewaskan sedikitnya 20 jurnalis tanpa adanya akuntabilitas yang transparan.
Di Gaza, pembatasan akses bagi media asing dan penghancuran infrastruktur komunikasi membuat verifikasi informasi menjadi tantangan berat.
Qudah mensinyalir bahwa angka kematian jurnalis yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi daripada yang berhasil didokumentasikan saat ini.
Eskalasi di Lebanon dan Suriah
Serangan tidak berhenti di wilayah Palestina. Menteri Informasi Lebanon, Paul Morcos, menyatakan bahwa dalam dua bulan terakhir saja, sembilan jurnalis tewas akibat serangan langsung Israel.
"Kami telah memulai langkah hukum melalui koordinasi dengan PBB dan badan internasional lainnya untuk menuntut pertanggungjawaban atas penghancuran sistematis terhadap infrastruktur sipil dan penargetan jurnalis," tegas Morcos kepada QNA.
Sementara itu di Suriah, jurnalis Muhammad Fahd melaporkan intimidasi langsung yang dialaminya.
Pasukan Israel melakukan penggerebekan di kediamannya di Quneitra, menyita peralatan kerja, dan melarang peliputan mengenai patroli militer di wilayah tersebut.
Perang Narasi
Wakil Ketua Sindikat Jurnalis Palestina, Omar Nazzal, menjelaskan bahwa strategi Israel telah bergeser.
Jika sebelumnya penargetan bertujuan untuk menutupi kejahatan perang, kini fokus utamanya adalah memenangkan "perang narasi".
"Dunia kini mulai melihat kebenaran dari perspektif Palestina, dan hal ini membuat pendudukan merasa terancam. Pesan yang mereka kirimkan jelas: siapapun yang memperkuat narasi Palestina akan membayar harganya, baik melalui penangkapan, pembunuhan, atau penargetan keluarga mereka," ungkap Nazzal.
Data menunjukkan sekitar 600 anggota keluarga jurnalis turut menjadi korban tewas dalam konflik terakhir, sebuah angka yang diyakini bertujuan untuk menciptakan efek jera bagi para pekerja media.
Ujian Bagi Hukum Internasional
Hari Kebebasan Pers Sedunia yang seharusnya menjadi momentum perayaan perlindungan media, kini menjadi ujian besar bagi komunitas internasional.
Pilihan yang tersedia hanya dua: menegakkan hukum internasional melalui mekanisme akuntabilitas yang efektif, atau membiarkan budaya impunitas terus berjalan.
Di tengah risiko nyawa, para jurnalis di garis depan tetap teguh menjalankan tugas mereka.
Mereka percaya bahwa meski suara bisa coba dibungkam, kebenaran memiliki jalannya sendiri untuk tetap terdengar.










