TVRINews - Teheran
Gencatan Senjata Kolaps, Dampak Kemanusiaan dan Krisis Ekonomi Global Kian Meluas
Hari ini Minggu 7 Juni 2026 menandai tepat 100 hari sejak meletusnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, sebuah konflik bersenjata yang awalnya diklaim oleh Presiden AS Donald Trump akan berakhir "sangat cepat".
Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Berdasarkan laporan visual dari Al Jazeera, meskipun kesepakatan gencatan senjata sempat tercapai pada 8 April lalu, ketegangan belum mereda.
Selat Hormuz masih lumpuh, kontak senjata sporadis terus terjadi, dan serangkaian diplomasi berulang kali menemui jalan buntu. Perang ini tidak hanya memicu krisis kemanusiaan yang hebat, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi dan pasar keuangan global secara masif.
Korban Jiwa Melampaui 7.000 Orang

(Grafis TVRINews.com/FY. (Sumber data: Al Jazeera))
Dampak mematikan dari konflik ini kini justru paling dirasakan di luar episentrum utamanya. Data awal menunjukkan bahwa jumlah korban tewas di Lebanon kini telah melampaui angka kematian di Iran yang menjadi target awal serangan.
Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 3.593 orang terkonfirmasi tewas di Lebanon, 3.468 di Iran, dan 29 orang di negara-negara Teluk. Selain itu, serangan balasan Iran dilaporkan telah menewaskan 26 warga Israel dan 13 tentara Amerika Serikat sejak perang pecah pada 28 Februari.
Otoritas terkait menyatakan angka-angka ini masih dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan perkembangan situasi dan masuknya informasi baru dari lapangan.
Israel Duduki Seperlima Wilayah Lebanon

(Grafis dan Sumber data: Al Jazeera)
Situasi di Lebanon terus memburuk secara signifikan. Kendati gencatan senjata terpisah sempat diberlakukan di Lebanon sejak 17 April, militer Israel dilaporkan tetap menggempur wilayah selatan negara tersebut.
Rangkaian serangan udara dan darat ini memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi dari tempat tinggal mereka. Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengecam keras operasi militer tersebut dengan menyebutnya sebagai "kebijakan bumi hangus dan hukuman kolektif" yang menghancurkan kota-kota serta desa-desa, sekaligus memaksa penduduknya hidup dalam pengasingan.
Per 1 Juni, pasukan Israel dilaporkan telah mencapai pinggiran Nabatieh, sebuah kota strategis di Lebanon selatan. Dalam pergerakan tersebut, militer Israel berhasil merebut Kastil Beaufort, menandai penetrasi militer terdalam ke dalam wilayah Lebanon dalam kurun waktu lebih dari 25 tahun terakhir.
Saat ini, Israel menguasai hampir seperlima wilayah Lebanon, atau setara dengan 2.000 kilometer persegi (770 mil persegi).
Pada awal konflik, Israel mengklaim bahwa tujuan operasi militernya di Lebanon hanyalah untuk melumpuhkan posisi-posisi kunci pejuang Hizbullah di selatan Sungai Litani yang berbatasan langsung dengan wilayahnya.
Namun, operasi militer di lapangan kini telah bergerak jauh melampaui batas tersebut, dengan dikeluarkannya perintah evakuasi paksa bagi warga sipil hingga mencapai Sungai Zahrani, sekitar 10 kilometer (enam mil) di utara Litani.
Sementara itu, dalam dua minggu pertama peperangan, gelombang pengungsian masif juga melanda Iran. Lebih dari tiga juta warga Iran terpaksa mengungsi setelah serangan udara gabungan AS-Israel membombardir berbagai infrastruktur vital dan kawasan pemukiman sipil di negara tersebut.
Lumpuhnya Selat Hormuz: Dari 100 Kapal Menjadi 7 Per Hari
Secara geopolitik ekonomi, perang ini langsung mencekik jalur perdagangan energi dunia. Sejak konflik dimulai, ratusan kapal tanker dan kargo terdampar di Selat Hormuz sebuah celah perairan strategis yang biasanya mengalirkan seperlima dari total pasokan minyak dan gas global.
Berdasarkan data pelacakan kapal, hanya sekitar 607 kapal yang berhasil melintasi selat tersebut sepanjang periode 28 Februari hingga 31 Mei. Angka ini menunjukkan rata-rata perlintasan hanya sekitar tujuh kapal per hari, merosot tajam jika dibandingkan dengan situasi normal sebelum perang yang mampu mencapai sekitar 100 kapal per hari.
Akibat penutupan jalur ini, cadangan minyak global terkuras pada level yang mengkhawatirkan, memicu kecemasan akut akan kelangkaan energi global seiring berlarutnya konflik.
Kondisi ini diperparah oleh langkah Amerika Serikat yang menerapkan blokade laut secara penuh terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak pertengahan April, yang kian melumpuhkan aktivitas pelayaran komersial di kawasan tersebut.
Tertahannya kapal-kapal tanker di dalam selat memaksa rute pelayaran memutar lebih jauh, menurunkan ketersediaan kapal pada jalur-jalur utama, dan melonjakkan tarif muatan kargo (freight rates) ke tingkat tertinggi.
Lonjakan Harga BBM di 146 Negara dan Ancaman Resesi

(Grafis: TVRINews.com/FY (sumber data: Al Jazeera))
Guncangan di Selat Hormuz langsung menjalar ke pasar energi internasional, menyebabkan harga minyak mentah melonjak hampir dua kali lipat dalam tiga bulan terakhir. Badan Energi Internasional (IEA), lembaga antarpemerintah yang memantau pasar energi global, menyebut disrupsi pasokan ini sebagai "guncangan energi terbesar dalam sejarah".
Sebelum perang berkecamuk, minyak mentah Brent, yang menjadi tolok ukur harga minyak global, diperdagangkan di kisaran USD 70 per barel. Hanya dalam waktu seminggu sejak eskalasi dimulai, harganya melesat melampaui angka USD 100 untuk pertama kalinya sejak tahun 2022, bahkan sempat menyentuh puncaknya mendekati USD 120 sebelum akhirnya stabil di kisaran USD 100 per barel hingga hari ini.
Dampak domino dari lonjakan energi ini dirasakan langsung oleh konsumen di mana 146 negara terpaksa menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) domestik mereka.
Menariknya, volatilitas harga minyak ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas media sosial Presiden AS Donald Trump. Unggahan-unggahannya di platform Truth Social kerap kali memicu pergeseran nilai kontrak berjangka minyak mentah yang bernilai miliaran dolar dalam hitungan menit.
Di sisi lain, krisis ini juga mengancam ketahanan pangan dunia. Mengingat rantai pasokan pangan global sangat bergantung pada gas alam sebagai bahan baku utama pupuk (seperti amonia, urea, dan amonium nitrat untuk meningkatkan hasil panen), harga pangan dunia pun bergerak selaras dengan lonjakan harga energi. Kenaikan biaya ini memukul setiap lini rantai pasok, mulai dari biaya produksi pupuk di lahan pertanian hingga biaya operasional truk yang mengangkut bahan pangan ke rak-rak supermarket.
Meski perusahaan-perusahaan minyak raksasa meraup keuntungan besar dari lonjakan harga ini, para ekonom memperingatkan bahwa jika harga energi terus bertahan di level tinggi, ekonomi global berisiko mengalami penurunan drastis hingga terjebak dalam jurang resesi.
"Masih terlalu dini untuk mengukur dampak penuh dari perang ini," ujar Hadi Kahalzadeh, non-resident fellow di Quincy Institute for Responsible Statecraft, kepada Al Jazeera.
"Namun kita tahu bahwa konflik ini telah mengontraksi PDB global, memicu inflasi, dan meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi serta risiko penurunan ekonomi baru, sebagaimana tercermin dalam estimasi IMF, Bank Dunia, dan OECD.
Tingginya harga energi, pupuk, dan logam utama telah menaikkan biaya input industri dan pertanian, yang berdampak negatif pada pertumbuhan dan inflasi. Kendati demikian, efek menyeluruh terhadap rantai pasok global masih belum diketahui sepenuhnya."
Reaksi Pasar Keuangan Global dan Anomali Sektor AI
Pada awal meletusnya perang, pasar ekuitas global langsung terkoreksi tajam. Indeks S&P 500, yang menjadi barometer pasar saham Amerika Serikat, merosot hingga 9,1 persen pada akhir Maret dari posisi tertingginya karena investor mulai memperhitungkan risiko guncangan energi dan potensi meluasnya perang regional.
Seiring berjalannya konflik, pergerakan bursa saham global menjadi sangat sensitif terhadap sinyal-sinyal diplomatik serta pernyataan Presiden Trump di media sosial. Indeks saham kerap jatuh saat isu eskalasi mengemuka dan kembali pulih ketika rumor gencatan senjata berembus. Pola ini bahkan memicu tuduhan adanya manipulasi pasar, meskipun dugaan tersebut belum terbukti secara hukum.
"Muncul pertanyaan serius mengenai pergerakan pasar yang mencurigakan di sekitar pengumuman besar Trump terkait Iran dan perang. Regulator AS dilaporkan tengah memeriksa beberapa transaksi perdagangan tersebut," kata Hadi Kahalzadeh kepada Al Jazeera.
"Ada juga kekhawatiran yang lebih luas mengenai konflik kepentingan, terutama seputar orang-orang terdekat Trump dan hubungan finansial mereka di Timur Tengah."
Kondisi pasar di Eropa tercatat jauh lebih buruk. Indeks-indeks utama seperti FTSE 100 (Inggris), Euro Stoxx 600, dan DAX (Jerman) merosot tajam pada awal Maret akibat tingginya ketergantungan ekonomi Eropa terhadap pasokan minyak untuk sektor industri mereka yang padat energi.
Pasar Asia, yang sangat bergantung pada minyak dari kawasan Teluk, menjadi pihak yang paling terpukul. Indeks Nikkei di Jepang mencatat salah satu kerugian harian terdalamnya pada awal perang. Uniknya, pada akhir April, ketika Pakistan bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan gencatan senjata, Nikkei sempat menguat tajam, namun kembali jatuh pada pertengahan Mei saat kedua pihak kembali terlibat saling balas tembakan.
Meski demikian, pasar ekuitas global saat ini terjebak di antara dua arus besar: guncangan inflasi akibat harga energi di satu sisi, dan tren penguatan sekuler (secular bull market) pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di sisi lain.
Terlepas dari sentimen negatif perang, indeks Nasdaq Composite dan S&P 500 justru berhasil mencetak rekor tertinggi baru tahun ini, yang didorong oleh ledakan hebat di sektor semikonduktor AI (AI semis boom).
Diplomasi yang Buntu dan Krisis Kepercayaan
Sepanjang konflik, tercatat dua kali perang pecah justru di tengah-tengah proses negosiasi yang sedang berjalan pertama pada Juni 2025, dan yang terbaru pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran saat pembicaraan damai masih berlangsung.
Kronologi Diplomasi Krusial:
• 8 April 2026 – Pemberlakuan Gencatan Senjata: Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan. Kesepakatan ini dimaksudkan untuk menghentikan pertempuran sementara dan membuka kembali jalur negosiasi diplomasi, di mana Iran setuju untuk membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz. Namun, hanya dalam hitungan jam setelah kesepakatan, Israel justru meluncurkan lebih dari 100 serangan udara di seluruh penjuru Lebanon yang menewaskan lebih dari 250 orang.
• 11–12 April 2026 – Perundingan Islamabad: Putaran negosiasi serius pertama untuk mengakhiri perang digelar di Pakistan. Delegasi Amerika Serikat dan Iran bertemu di Islamabad, namun pembicaraan tersebut akhirnya kolaps akibat ketidaksepahaman mengenai isu nuklir. Presiden Trump menyatakan bahwa "sebagian besar poin telah disepakati, tetapi satu-satunya poin yang krusial, yaitu masalah nuklir, tidak menemui kata sepakat." Iran menolak keras posisi AS dan mengajukan proposal tandingan, yang kemudian dicap oleh Trump sebagai "sampah". Trump memperingatkan bahwa gencatan senjata kini berada dalam kondisi "kritis", dan AS segera mengumumkan blokade angkatan laut terhadap pelayaran Iran.
Faktor mendasar dari kebuntuan ini adalah hilangnya rasa saling percaya di antara pihak-pihak yang bertikai dalam negosiasi pasca-gencatan senjata. Omar Rahman, seorang peneliti di Middle East Council on Global Affairs, menjelaskan bahwa meskipun akhir dari perang ini mungkin sudah dekat, hasilnya sangat bergantung pada pihak mana yang bersedia memberikan konsesi atau ruang kompromi.
"Kesepakatan yang lebih sempit dan terperinci akan jauh lebih sulit untuk dicapai," kata Omar Rahman kepada Al Jazeera.
"Dia [Trump] mengandalkan tenaga non-profesional untuk menegosiasikan isu-isu besar, dan itu tidak membuahkan hasil apa pun. Dia hanya ingin menulis 10 poin kesepakatan di atas selembar serbet, bukan menegosiasikan perjanjian terperinci yang matang dan dapat bertahan lama."
"Saya pikir pihak Iran sangat menyadari hal itu. Mereka sama sekali tidak mempercayai Amerika Serikat, dan mereka tidak mempercayai Trump akan mematuhi perjanjian apa pun yang dia tanda tangani di masa depan," tambah Rahman.
Di dalam negeri AS, kebijakan perang ini mulai menggerus modal politik sang presiden. Berdasarkan rata-rata jajak pendapat RealClearPolitics per 2 Juni, tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap Presiden Donald Trump merosot ke angka 40,3 persen, sementara 57 persen warga Amerika menyatakan tidak puas dengan kinerjanya. Dengan selisih negatif sebesar 16,7 poin, angka ini menandai penurunan popularitas yang signifikan bagi Trump dibandingkan dengan periode sebelum serangan gabungan AS-Israel dilancarkan ke Iran.









