TVRINews – Los Angeles
Pemerintah Kota Berpacu dengan Waktu Menghapus Enkampemen Jalanan Melalui Program Rumah Mikro, Namun Efektivitas Jangka Panjang Mulai Dipertanyakan
Di balik gemerlap persiapan menyambut turnamen Piala Dunia, Kota Los Angeles tengah berpacu dengan waktu untuk mengatasi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di Amerika Serikat: tunawisma.
Melalui program ambisius bernilai ratusan juta dolar, pemerintah kota mulai mengosongkan tenda-tenda darurat di pinggir jalan dan memindahkan ribuan tunawisma ke hunian prefabrikasi berukuran mikro (tiny homes).
Langkah ini berhasil menekan angka tuna wisma jalanan hingga 17,5 persen dalam dua tahun terakhir berdasarkan sensus terbaru. Ini merupakan penurunan paling konsisten sejak pencatatan dimulai dua dekade lalu. Kawasan ikonik seperti Hollywood dan Venice Beach kini mulai bersih dari pemandangan kumuh enkampemen.
Meski demikian, efektivitas jangka panjang dari program ini memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat dan aktivis sosial.
Sisi Lain "Dinding Penjara" Hunian Mikro
Bagi sebagian warga, proyek tiny homes ini adalah sebuah penyelamatan, meski jauh dari kata ideal. Michael Gilpin (44), seorang warga yang kini berbagi hunian seluas enam meter persegi dengan pria lain, mengakui adanya perbaikan kualitas hidup setelah sekian lama tidur di dalam mobil.
"Ini jelas jauh lebih baik daripada hidup di jalanan. Setidaknya saya tidak perlu lagi berurusan dengan kecoak," ujar Gilpin kepada AFP. Namun, ia juga tidak menampik bahwa ruang yang sangat terbatas itu adakalanya terasa menyesakkan, menyerupai "sel penjara."
Kritik terhadap program ini kian menguat seiring munculnya data internal. Hingga akhir tahun 2025, program unggulan Walikota Karen Bass ini tercatat berhasil menampung sekitar 5,800 orang.
Sayangnya, ketatnya aturan fasilitas seperti larangan menerima tamu serta tantangan psikologis membuat 40 persen dari mereka akhirnya memilih kembali ke jalanan.
Krisis Sistemik dan Keterbatasan Fasilitas
Masalah mendasar yang dihadapi California, khususnya Los Angeles, bukan sekadar menyediakan tempat tidur sementara, melainkan krisis pasokan properti yang terjangkau. Dengan rata-rata sewa apartemen studio mencapai $1.800 (sekitar Rp28 juta) per bulan, sedikit saja penurunan pendapatan dapat melempar seseorang ke jurang kemiskinan.
Hal ini dialami oleh Michael Reyes (59), seorang pekerja pemeliharaan yang terpaksa tinggal di mobil setelah mengalami kecelakaan kerja. Tunjangan bulanan yang ia terima tidak lagi mampu menutup biaya sewa yang melambung tinggi.
"Biaya hidup kita terus melonjak, tetapi pendapatan tidak bergerak. Ada yang salah dengan sistem ini," tutur Reyes yang kini menetap di sebuah rumah mikro.
Di lapangan, para aktivis kemanusiaan terus bekerja di bawah tekanan berat akibat ketimpangan kuantitas fasilitas. Armando Covarrubias dari organisasi Hope The Mission mengungkapkan bahwa jumlah tunawisma di wilayah San Fernando Valley masih melampaui kapasitas tempat penampungan yang tersedia dengan rasio empat hingga lima kali lipat.
Ketika otoritas setempat membongkar pemukiman liar di sepanjang jalur kereta api bulan lalu, keterbatasan ruang membuat banyak warga tidak mendapatkan tempat penampungan. Akibatnya, dalam hitungan minggu, tenda-tenda baru kembali berdiri di sekitar lokasi tersebut.
Salah satu warga yang terdampak, Maggie (40-an), menyatakan dirinya telah berada di daftar tunggu selama tiga bulan setelah bertahan hidup selama satu dekade di jalanan. "Saya masih berharap ada tempat permanen untuk saya," ucapnya.
Antara Estetika Kosmetik dan Solusi Nyata
Sebagai kota metropolitan yang akan menjadi tuan rumah delapan pertandingan Piala Dunia tahun ini, serta Olimpiade pada tahun 2028, Los Angeles kini berada di bawah mikroskop global.
Para kritikus menilai determinasi pemerintah kota saat ini lebih didorong oleh tekanan kosmetik demi menyambut turis mancanegara ketimbang penyelesaian akar masalah secara struktural.
Skeptisisme ini tergambar jelas dari pandangan Reyes yang menilai upaya pembersihan ini bersifat temporer.
"Mereka melakukan ini demi para turis. 'Mari kita bersihkan Hollywood.' Namun pada akhirnya, situasi ini tidak akan pernah benar-benar berubah," pungkas Reyes dengan nada kecewa.
Saat mata dunia mulai tertuju pada stadion-stadion megah di Los Angeles, tantangan sesungguhnya bagi Walikota Karen Bass dan jajarannya adalah membuktikan bahwa kebijakan hunian ini bukanlah sekadar proyek etalase, melainkan fondasi berkelanjutan bagi pemulihan sosial warganya.










