TVRINews – Palestina, Sudan, Afika Selatan
Krisis kemanusiaan di Timur Tengah dan Afrika memicu lonjakan penderita "anak dosis nol" di tengah ambruknya sistem kesehatan.
Ancaman mematikan kini membayangi jutaan anak di wilayah yang tercabik perang. Sebuah laporan terbaru dari lembaga kemanusiaan Save the Children mengungkapkan bahwa konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dan Afrika Utara telah memicu lonjakan kasus campak ke tingkat yang mengkhawatirkan, memperlebar celah bagi kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
Kelompok yang paling rentan ini dikenal dengan istilah "anak-anak dosis nol" bayi yang belum menerima satu pun dari dua dosis vaksin campak yang diperlukan untuk melindungi mereka. Secara global, penyakit ini merenggut sekitar 95.000 nyawa anak setiap tahunnya.
Lonjakan Signifikan di Zona Merah
Berdasarkan analisis data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Save the Children mencatat bahwa jumlah kasus campak di 18 negara zona konflik meningkat sebesar 25 persen tahun lalu. Angka ini melonjak dari 57.000 kasus pada tahun 2024 menjadi 74.340 kasus pada tahun 2025.

(Seorang gadis Palestina menerima vaksin polio di tengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Kota Gaza (Foto: Arab News))
Namun, angka tersebut diyakini hanyalah "puncak gunung es". Dalam pernyataan resminya, pihak organisasi menegaskan:
"Meskipun angka-angka ini sangat tinggi, jumlah kasus sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar karena pelaporan yang tidak memadai akibat sistem kesehatan yang terganggu dan hancur."
Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 tercatat 254.384 kasus terkonfirmasi secara global. Namun, studi WHO menunjukkan realitas yang jauh lebih kelam dengan estimasi 11 juta infeksi yang terjadi sepanjang tahun 2024.
Kaitan Erat dengan Malnutrisi
Campak merupakan virus lewat udara yang sangat menular. Sembilan dari sepuluh anak yang tidak diimunisasi akan tertular jika melakukan kontak dengan penderita. Komplikasi yang timbul pun fatal, mulai dari kebutaan, gangguan pernapasan parah, hingga ensefalitis atau pembengkakan otak.
Sarah Ashraf, penasihat utama Save the Children untuk kesehatan kemanusiaan global, menjelaskan bahwa risiko kematian berlipat ganda ketika campak bertemu dengan krisis pangan.

(Potret Anak anak Palestina antri makanan dari dapur amal di kamp pengungsi Nuseirat, Jalur Gaza bagian tengah (Foto: AFP))
"Kami melihat selama bertahun-tahun bahwa jika campak terjadi bersamaan dengan masalah kesehatan lain, terutama malnutrisi, maka risiko kematian sangat tinggi bagi anak-anak," ujar Ashraf kepada Arab News.
Hambatan Geopolitik dan Pemangkasan Bantuan…
Di negara-negara seperti Yaman, Suriah, Sudan, dan wilayah Palestina, upaya imunisasi terbentur oleh serangan terhadap fasilitas kesehatan dan pemangkasan dana bantuan internasional.
Ashraf menyoroti dampak besar dari kebijakan pembekuan bantuan luar negeri oleh pemerintah Amerika Serikat pada awal 2025, yang mengakibatkan penutupan banyak program kesehatan vital.
"Pendanaan untuk program imunisasi dari pemain besar seperti Gavi dan Gates Foundation sangat dipengaruhi oleh dinamika politik," tambahnya. Hal ini diperparah dengan maraknya misinformasi vaksin di wilayah terpencil, yang menuntut petugas medis bekerja satu per satu dengan keluarga untuk memberikan edukasi.
Tantangan di Lapangan
Di Sudan, tim medis harus mengadaptasi rute pengiriman vaksin melalui perbatasan Chad dan Sudan Selatan demi menjangkau wilayah Darfur yang terisolasi.
Sementara di Yaman, operasional sempat terhenti akibat masalah keamanan setelah kematian seorang staf senior dalam tahanan.
Tanpa adanya intervensi global yang stabil dan perlindungan terhadap akses kesehatan di zona perang,
Save the Children memprediksi bahwa lonjakan kasus campak pada tahun 2026 tidak akan terelakkan, menempatkan generasi masa depan dalam risiko kepunahan yang sunyi.










