TVRINews – Beirut
Eskalasi Militer Terus Berlanjut Meski Kesepakatan Gencatan Senjata Telah Diumumkan.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 39 orang tewas dalam gelombang serangan udara intensif yang diluncurkan militer Israel di berbagai wilayah Lebanon pada Sabtu 9 Mei 2026.
Insiden paling mematikan terjadi di kota Saksakiyeh, bagian selatan Lebanon, yang merenggut nyawa tujuh orang, termasuk seorang anak-anak.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi operasi tersebut dengan dalih menargetkan infrastruktur kelompok bersenjata Hezbollah.
Dalam pernyataan resminya yang dikutip BBC News Minggu 10 Mei 2026, IDF mengklaim telah menyerang "teroris Hezbollah yang beroperasi dari struktur militer" dan menegaskan bahwa pihaknya "menyadari laporan mengenai bahaya terhadap warga sipil yang tidak terlibat."
Tragedi di Saksakiyeh dan Nabatieh
Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan bahwa serangan di Saksakiyeh tidak hanya menimbulkan korban jiwa tetapi juga melukai 15 orang lainnya, termasuk tiga anak-anak.
Pihak IDF menyatakan bahwa langkah-langkah mitigasi risiko warga sipil telah dilakukan melalui penggunaan amunisi presisi dan pengawasan udara sebelum serangan dilancarkan.
Namun, laporan memilukan juga datang dari Nabatieh. Kementerian Kesehatan Lebanon merinci serangan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan seorang warga negara Suriah dan putrinya yang berusia 12 tahun saat mengendarai sepeda motor.
"Setelah mereka berhasil menjauh dari lokasi serangan pertama, drone menyerang untuk kedua kalinya," ungkap kementerian tersebut.
Sang ayah tewas dalam serangan kedua, sementara drone dilaporkan menargetkan sang anak "secara langsung untuk ketiga kalinya." Gadis tersebut kini dilaporkan tengah menjalani operasi darurat untuk menyelamatkan nyawanya.
Kegagalan Diplomasi dan Dampak Kemanusiaan
Pertukaran api ini terus berlangsung meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara pemerintah Israel dan Lebanon pada 16 April lalu.
Sejak serangan balasan Hezbollah pada 2 Maret yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran intensitas konflik meningkat tajam.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan skala dampak kemanusiaan yang mengkhawatirkan:
• Total Korban Jiwa: 2.795 orang tewas di Lebanon sejak 2 Maret.
• Pekan Terakhir: Lebih dari 120 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak.
• Sisi Israel: 17 tentara dan satu warga sipil tewas di Lebanon Selatan, serta dua warga sipil di Israel Utara.
Zona Keamanan dan Dugaan Kejahatan Perang
Saat ini, militer Israel menduduki jalur darat di sepanjang perbatasan Lebanon dengan tujuan membentuk "zona keamanan bebas Hezbollah."
Namun, operasi ini memicu kritik keras dari organisasi hak asasi manusia. Penghancuran desa-desa secara total di wilayah tersebut disebut memiliki pola yang serupa dengan taktik militer Israel di Gaza, yang menurut kelompok HAM, dalam beberapa kasus dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Di sisi lain, Hezbollah tetap melancarkan perlawanan. Pada Sabtu 9 Mei kemarin, serangan drone Hezbollah ke Israel utara dilaporkan melukai tiga tentara cadangan, dengan satu di antaranya dalam kondisi serius. Hezbollah menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan respons langsung atas agresi Israel yang terus berlanjut di tanah Lebanon.










