TVRINews – Gaza
Eskalasi kekerasan kembali terjadi, menewaskan seorang jurnalis Al Jazeera dan warga sipil di tengah rapuhnya gencatan senjata.
Ketegangan di Jalur Gaza kembali memuncak setelah serangkaian serangan udara Israel menewaskan setidaknya enam orang, termasuk seorang juru kamera Al Jazeera, Ahmed Wishah, dan beberapa warga sipil, menurut laporan otoritas kesehatan setempat dan tim penyelamat.
Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis pasca-peristiwa Minggu 21 Juni 2026, Al Jazeera mengecam keras tindakan tersebut. Pihak media menyebut insiden ini sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan bagian dari kebijakan sistematis untuk membungkam peliputan jurnalis di lapangan.
"Ini merupakan pelanggaran baru yang nyata terhadap norma internasional dan mencerminkan kebijakan sistematis untuk menargetkan jurnalis serta membungkam suara kebenaran," demikian bunyi pernyataan dari pihak Al Jazeera.
Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memberikan keterangan berbeda. Melalui pernyataan persnya, IDF menuduh bahwa Wishah merupakan seorang agen di sayap militer Hamas yang beroperasi sebagai penembak jitu. Namun, pihak militer Israel tidak menyertakan bukti spesifik atas klaim tersebut saat dikonfirmasi mengenai detail operasionalnya.
Tragedi di Bureij dan Sabra
Serangan yang menewaskan Wishah terjadi di sebuah rumah di kamp pengungsi Bureij, Gaza Tengah. Otoritas pertahanan sipil setempat mengonfirmasi bahwa dua orang lainnya yang tewas dalam serangan tersebut juga dituduh oleh pihak Israel memiliki afiliasi dengan Hamas.
Secara terpisah, di lingkungan Sabra, Kota Gaza, sebuah serangan udara pada malam hari menghancurkan sebuah rumah dan menelan empat nyawa dari satu keluarga yang sama. Rumah sakit setempat mengonfirmasi telah menerima jenazah dua wanita dan dua anak-anak.
Nael Safadi, salah satu kerabat korban, menyatakan rasa frustrasinya atas serangan yang menghantam permukiman warga sipil tersebut. "Sepupu saya tidak memiliki hubungan dengan Hamas, mereka juga tidak terlibat dalam aktivitas apa pun. Mereka hanyalah anak-anak yang tidak bersalah," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan Agence France-Presse (AFP).
Kondisi Kemanusiaan yang Mengkhawatirkan
Insiden ini terjadi di tengah upaya internasional untuk menjaga gencatan senjata yang masih sangat rapuh. Meskipun bantuan kemanusiaan mulai masuk dalam skala yang lebih besar, badan-badan PBB memperingatkan bahwa kondisi di lapangan tetap berada di ambang krisis.
Kepala badan kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, dalam pemaparannya di Dewan Keamanan PBB pekan ini mengungkapkan bahwa meskipun persentase kelaparan di kalangan rumah tangga menurun berkat masuknya truk bantuan, kebutuhan akan hunian layak masih sangat kritis.
"Saat ini, warga Palestina di Gaza masih kekurangan hal-hal mendasar yang diinginkan setiap keluarga: keamanan, tempat tinggal, air bersih, layanan kesehatan, dan pendidikan," tegas Fletcher.
Sejak konflik ini pecah pada 7 Oktober 2023, data dari kementerian kesehatan yang dikelola Hamas mencatat lebih dari 73.000 orang telah kehilangan nyawa akibat operasi militer Israel. Baik pihak Israel maupun kelompok bersenjata Palestina terus saling menuduh atas pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang hingga kini belum sepenuhnya menciptakan stabilitas di wilayah tersebut.










