TVRINews – Makkah
Jutaan Jemaah Haji Padati Muzdalifah untuk Bermalam dan Menyiapkan Prosesi Lontar Jumrah
Jutaan jemaah haji dari berbagai penjuru dunia bergerak meninggalkan Padang Arafat menuju Muzdalifah pada malam 10 Zulhijah.
Pergerakan massal pada selasa 26 Mei 2026 Malam hingga Rabu 27 Mei dini hari waktu setempat, menjadi salah satu fase paling krusial dalam ibadah haji ini berlangsung dalam suasana khidmat dan tertib, di mana para jemaah berkumpul untuk bermalam (mabit) sekaligus mempersiapkan ritual berikutnya di Mina.
Muzdalifah, sebuah kawasan terbuka seluas 11,68 juta meter persegi yang terletak sekitar delapan kilometer dari Masjidil Haram, menjadi titik temu spiritual yang menjembatani Arafat dan Mina.
Di lokasi suci yang mampu menampung lebih dari dua juta manusia ini, jemaah melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak dan qasar, mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW.
Secara etimologi, nama Muzdalifah berakar dari kata bahasa Arab izdalaf yang berarti "mendekat", merujuk pada pergerakan jemaah yang semakin dekat dengan Masjidil Haram, atau karena kehadiran mereka di wilayah tersebut pada jam-jam awal malam (zulaf al-layl).
Kawasan ini sengaja dijaga tanpa bangunan permanen demi mempertahankan karakteristik religius dan lanskap historisnya.
Signifikansi Teologis dan Transformasi Infrastruktur…
Signifikansi spiritual Muzdalifah ditegaskan dalam kitab suci Al-Qur'an, khususnya melalui firman Allah SWT yang termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 198:
"Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram."
Pusat spiritual kawasan ini bertumpu pada Masjid Masy'aril Haram. Di tempat ini, Nabi Muhammad SAW dahulu bermalam dan mengumpulkan batu-batu kecil yang akan digunakan untuk ritual melontar jumrah di Mina.
Guna mengantisipasi lonjakan volume jemaah yang terus meningkat setiap tahunnya, Pemerintah Arab Saudi di bawah kepemimpinan Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman terus melakukan modernisasi infrastruktur tanpa mengubah nilai sakral Kawasan Kutip Arab News.
Arab News juga melapaorkan Salah satu inovasi logistik yang diterapkan adalah proyek Jalur Mashaer (Mashaer Path) yang diinisiasi oleh Kidana Development Company. Proyek yang membentang di atas lahan seluas 170.000 meter persegi ini mengintegrasikan 103.000 meter persegi lantai karet ramah lingkungan.
Teknologi ini dirancang khusus untuk mereduksi penyerapan panas bumi serta meminimalkan kelelahan fisik jemaah yang berjalan kaki.
Fasilitas Terintegrasi dan Manajemen Digital
Kenyamanan ibadah jemaah juga didukung oleh pembaruan fasilitas publik secara masif. Di sekitar area Mashaer Path, otoritas terkait telah menyediakan koridor khusus untuk kendaraan operasional dan kereta golf, area istirahat, stasiun pengisian daya ponsel mandiri, kipas penyemprot air (mist fans), hingga papan penunjuk arah berbasis digital.
Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Penyuluhan Arab Saudi juga melaporkan rampungnya renovasi total pada Masjid Masy'aril Haram. Rumah ibadah seluas 5.040 meter persegi yang mampu menampung 5.500 jemaah ini kini dilengkapi dengan sistem pendingin udara mutakhir, pemutakhiran sistem audio, serta perluasan area salat khusus wanita hingga 100 persen demi memastikan kelancaran arus keluar-masuk jemaah.
Dari aspek keselamatan dan keamanan, otoritas keamanan Arab Saudi memanfaatkan integrasi sistem digital mutakhir untuk mengendalikan gelombang pergerakan manusia dari Arafat menuju Muzdalifah.
Seluruh dinamika di lapangan dipantau secara langsung (real-time) melalui ruang kendali pusat yang terkoneksi dengan kamera pengawas pintar, memungkinkan respons cepat terhadap setiap potensi kendala logistik maupun medis di lapangan.
Secara keseluruhan, lanskap Muzdalifah saat ini tidak hanya berdiri sebagai simbol spiritualitas yang mendalam bagi umat Islam, tetapi juga menjadi potret nyata dari keberhasilan manajemen massa modern yang didorong oleh komitmen jangka panjang Kerajaan Arab Saudi dalam melayani tamu-tamu Allah.










