TVRINews – Gaza
Pemerintah Amerika Serikat melalui Jared Kushner memastikan tidak ada izin rekonstruksi sebelum Hamas meletakkan senjata.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa rekonstruksi Jalur Gaza tidak akan diizinkan sebelum kelompok Hamas sepenuhnya melucuti senjata. Kebijakan tersebut disampaikan oleh utusan khusus AS, Jared Kushner, menyusul rangkaian pembicaraan diplomatik tingkat tinggi di kawasan Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan media internasional Senin 17 Agustus 2026,Kushner menyatakan bahwa Washington memegang komitmen kuat untuk tidak menggelontorkan dana pembangunan kembali wilayah yang porak-poranda akibat konflik, selama ancaman keamanan dan risiko pengambilalihan oleh kelompok militan masih membayangi.
"Kami memiliki rencana untuk membangun kembali Gaza, namun kami tidak akan mengizinkan Gaza dibangun kembali sampai demiliterisasi terjadi," ujar Kushner.
Ia menambahkan bahwa tidak ada pihak yang ingin mengalirkan dana besar ke wilayah yang rentan hancur kembali akibat konflik bersenjata berkepanjangan.
Kebijakan tersebut merespons dinamika perundingan yang melibatkan para pemimpin regional. Sebelumnya, Hamas dikabarkan telah menyatakan kesiapan untuk meletakkan senjata dalam kerangka proses perdamaian yang didukung Amerika Serikat, yang mencakup penarikan mundur pasukan Israel serta penghentian operasi militer di wilayah kantong Palestina tersebut.
Kendati demikian, pemerintah Israel di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap mempertahankan pendiriannya. Pihak Israel menegaskan tidak akan memberikan konsesi tambahan sebelum proses demiliterisasi di Gaza terlaksana secara menyeluruh dan tuntas.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya sempat menyampaikan seruan agar serangan militer di Gaza segera dihentikan demi membuka ruang dialog yang lebih konstruktif.
"Israel seharusnya tidak melancarkan serangan di Gaza. Hamas telah sepakat untuk meletakkan senjata mereka," ungkap Presiden Trump dalam keterangan resminya.
Dalam laporan yang dikutip Al Jazeera ,situasi di lapangan tetap memprihatinkan dengan jatuhnya korban jiwa di tengah ketidakpastian gencatan senjata.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan secara saksama, seraya menilai komitmen pihak-pihak yang terlibat berdasarkan tindakan nyata, bukan sekadar retorika politik.










