TVRINews – Korea Selatan
Curah Hujan Nyaris Satu Meter Lumpuhkan Sejumlah Wilayah Korea Selatan
Bencana hidrometeorologi kembali melanda kawasan Asia Timur dan Tenggara. Sejak Sabtu lalu, wilayah selatan Korea Selatan diguyur hujan deras ekstrem yang memicu longsor mematikan, pemadaman listrik massal, serta evakuasi ribuan warga.
Berdasarkan data dari Kementerian Dalam Negeri dan Keselamatan Korea Selatan, curah hujan kumulatif di Provinsi Gyeongsang Selatan bahkan menembus angka 912 milimeter hingga Senin17 Agustus 2026 sore. Kota Geoje dan Tongyeong menjadi wilayah yang paling parah terdampak, di mana volume air hujan dalam kurun waktu dua hari setara dengan curah hujan rata-rata sepanjang musim panas.
Dampak terburuk terjadi di Kota Geoje, di mana longsor menerjang sebuah kompleks bangunan apartemen. Kepolisian dan petugas pemadam kebakaran setempat berhasil mengevakuasi tiga penghuni dari reruntuhan. Namun, satu korban ditemukan dalam kondisi henti jantung dan dinyatakan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit.
Menurut laporan kantor berita Yonhap, insiden tersebut juga menyebabkan dua orang mengalami luka-luka di Geoje, sementara dua korban luka lainnya tercatat di kota tetangga. Secara keseluruhan, terjangan air bah dan longsor ini memaksa sekitar 390 warga mengungsi ke tempat aman serta memutus aliran listrik di 3.580 rumah.
The Korea Herald melaporkan bahwa otoritas meteorologi setempat menyatakan wilayah Gyeongsang Selatan menerima curah hujan setara satu musim panas penuh hanya dalam kurun waktu 48 jam. Rekor curah hujan harian tertinggi tercatat di Geoje dan Tongyeong.
Selain korban jiwa dan kerusakan tempat tinggal, terjangan air bah juga merendam 12 sekolah serta taman kanak-kanak. Menanggapi situasi darurat ini, Perdana Menteri Han Seong-sook telah menginstruksikan aparat kepolisian, pemadam kebakaran, serta instansi terkait untuk mengerahkan seluruh sumber daya guna menyelamatkan warga yang terjebak dan memitigasi risiko susulan.
Kondisi cuaca ekstrem serupa turut melumpuhkan kawasan regional lainnya. Di Filipina, hujan muson berkepanjangan memicu banjir di ibu kota Manila, memaksa pemerintah meliburkan instansi publik dan mengalihkan kegiatan belajar mengajar secara daring.
Kantor Pertahanan Sipil Filipina mencatat, rangkaian cuaca buruk dan badai dalam tiga pekan terakhir telah merenggut sedikitnya 23 jiwa serta berdampak pada lima juta penduduk di Pulau Luzon.










