TVRINews – Washington DC
Ketegangan Timur Tengah Memuncak: Donald Trump Kembali Lontarkan Ancaman Keras Terhadap Oman di Tengah Kebuntuan Diplomasi Iran.
Kebijakan luar negeri Amerika Serikat kembali menuai sorotan tajam setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman terbuka terhadap Oman. Dalam wawancara terbarunya dengan Fox News pada Senin 17 Agustus 2026, Trump memperingatkan bahwa Washington akan menghancurkan negara Teluk tersebut apabila dianggap menghalangi upaya penyelesaian perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Ancaman kontroversial ini dilayangkan bertepatan dengan berakhirnya batas waktu perundingan damai selama dua bulan yang telah disepakati sebelumnya, tanpa menghasilkan satu pun terobosan signifikan.
Oman, yang selama ini dikenal sebagai mitra strategis jangka panjang Amerika Serikat sekaligus fasilitator diplomasi dan saluran komunikasi rahasia antara Washington dan Teheran, mendadak berada di posisi yang rentan.
"Jika Oman menghalang-halangi, kami akan meratakan mereka," ujar Trump dalam wawancara tersebut. Pernyataan senada sebelumnya juga sempat diungkapkan sang presiden secara kasual dalam rapat kabinet pada Mei lalu.
Dinamika Regional yang Semakin Kompleks
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kian memanas di berbagai lini. Di Laut Merah, kelompok Houthi Yaman mengklaim telah meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan kapal militer Arab Saudi beserta empat kapal pengawalnya di dekat pelabuhan strategis dekat Selat Bab-al Mandeb.
Meskipun otoritas Arab Saudi belum memberikan konfirmasi resmi, insiden ini menggarisbawahi rapuhnya stabilitas jalur pelayaran internasional yang krusial bagi pasokan energi global.
Sementara itu, di Tel Aviv, penasihat senior sekaligus menantu presiden, Jared Kushner, dilaporkan telah melakukan pertemuan maraton selama lebih dari empat jam dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pertemuan tersebut digelar menyusul penolakan Netanyahu terhadap proposal perdamaian Gaza yang didukung Washington sebuah rencana yang mencakup penarikan pasukan Israel dari wilayah konflik sebelum Hamas sepenuhnya melucuti senjata.
Stabilitas Pasokan Energi dan Ambisi Nuklir
Selat Hormuz, yang menjadi titik nadi vital bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia melalui jalur laut, praktis lumpuh sejak konflik terbuka antara Amerika Serikat-Israel dan Iran meletus pada Februari lalu.
Di sisi utara selat tersebut berdiri Iran, sementara Oman terletak di bagian selatan, di mana kedua negara diketahui tengah merundingkan pengelolaan jalur strategis tersebut.
Kendati menghadapi kebuntuan diplomasi dan kritik terkait potensi penipisan cadangan amunisi pertahanan strategis Amerika Serikat akibat konflik hampir enam bulan ini, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan final.
"Saya tidak punya jadwal waktu. Saya sedang tidak terburu-buru," tegas Trump, seraya menegaskan kembali garis merah pemerintahannya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa proses komunikasi dan perundingan dengan pihak Oman tetap berjalan secara intensif, di tengah dinamika geopolitik kawasan yang kian tidak menentu Kutip The Guardian 18 Agustus 2026.










