TVRINews – Madrid, Spanyol
Tragedi mematikan di Almeria dipicu gelombang panas ekstrem dan medan yang sulit.
Sebuah kebakaran hutan hebat melanda kawasan permukiman ekspatriat di pegunungan Sierra de Los Filabres, Provinsi Almeria, Spanyol selatan, pada jumat malam waktu setempat.
Otoritas regional Andalusia mengonfirmasi sedikitnya 12 orang tewas, sementara 23 lainnya dilaporkan hilang dalam bencana yang kini menjadi salah satu insiden kebakaran hutan paling mematikan di negara tersebut.
Juan Manuel Moreno, Kepala Pemerintahan Regional Andalusia, menyatakan bahwa selain korban jiwa, delapan orang mengalami luka-luka akibat terjebak saat berupaya melarikan diri dari kobaran api. Pihak berwenang memperkirakan jumlah korban kemungkinan akan terus bertambah seiring berlanjutnya operasi pencarian.
Jebakan Maut di Jalur Evakuasi
Antonio Sanz, Kepala Layanan Darurat Andalusia, menjelaskan bahwa banyak korban meninggal dunia setelah mengabaikan instruksi untuk tetap berlindung di dalam rumah. "Beberapa dari mereka mencoba melarikan diri melalui dasar sungai yang kering, namun jalur tersebut justru berubah menjadi jebakan maut," ungkap Sanz.
Pihak berwenang menduga empat korban di antaranya merupakan warga negara Inggris, merujuk pada posisi setir kendaraan yang terbakar. Sebagian besar dari korban jiwa diyakini adalah warga negara asing yang tinggal di kawasan tersebut.
Dean Taylor, seorang penduduk yang membagi waktunya antara Spanyol dan Inggris, menuturkan pengalaman traumatisnya saat berhasil meloloskan diri melalui jalan tikus di tengah kepungan asap.
"Kejadian ini sangat mengerikan. Ini adalah hari yang sangat menyedihkan dan benar-benar menghancurkan," ujar Taylor dalam sebuah wawancara dengan Associated Press.
Kombinasi Cuaca Ekstrem dan Medan Terjal
Hingga Jumat sore, sekitar 150 petugas pemadam kebakaran dan 220 tentara dari unit darurat militer Spanyol masih berjibaku memadamkan api yang telah melahap lebih dari 3.200 hektare lahan hutan dan pertanian.
Moreno menyebutkan bahwa upaya pemadaman terkendala oleh medan yang terjal serta kondisi vegetasi yang kering akibat gelombang panas berkepanjangan. "Ini adalah kombinasi semak belukar dan rumput esparto yang sangat kering. Ditambah dengan embusan angin, ini menjadi bom waktu," jelasnya.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, melalui akun media sosial X, menyampaikan belasungkawa mendalam. "Rasa sedih dan duka yang mendalam atas konsekuensi mengerikan dari kebakaran yang melanda provinsi Almeria," tulis Sánchez.
Ancaman Perubahan Iklim di Eropa
Insiden ini terjadi di tengah gelombang panas yang kembali menyelimuti Eropa. Spanyol telah berulang kali menghadapi cuaca ekstrem dengan suhu yang kerap melampaui 40 derajat Celsius dalam beberapa tahun terakhir.
Data dari Copernicus Climate Change Service milik Uni Eropa mencatat bahwa Eropa merupakan benua dengan tingkat pemanasan tercepat di dunia.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim yang dipicu oleh emisi bahan bakar fosil telah memperburuk frekuensi serta intensitas kekeringan, membuat wilayah tertentu menjadi jauh lebih rentan terhadap kebakaran hutan skala besar.
Sebelumnya, Spanyol mencatat rekor luas lahan terbakar mencapai lebih dari 393.000 hektare pada tahun lalu. Tragedi di Almeria ini kini menambah daftar panjang bencana kebakaran hutan di Eropa, menyusul situasi serupa yang juga tengah membayangi Prancis, di mana otoritas setempat telah memperingatkan risiko kebakaran sangat tinggi di tengah puncak gelombang panas musim panas ini.










