TVRINews – Yerevan
Puluhan Pemimpin Eropa Berkumpul di Yerevan dalam Dua KTT Bersejarah untuk Mengukuhkan Hubungan Bilateral.
Peta geopolitik Kaukasus Selatan mengalami pergeseran seismik pekan ini. Armenia, negara yang secara historis merupakan sekutu terdekat Moskow di kawasan tersebut, kini menjadi tuan rumah bagi lebih dari 30 pemimpin Eropa dan Perdana Menteri Kanada dalam dua pertemuan puncak (KTT) yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pertemuan ini menandai titik balik krusial bagi negara berpenduduk kurang dari tiga juta jiwa tersebut.
Meskipun saat ini masih berstatus anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) bentukan Vladimir Putin dan menampung pangkalan militer Rusia, Armenia secara terang-terangan mulai berpaling ke arah Barat.
Keamanan dan Kekecewaan terhadap Moskow
Kemesraan baru dengan Uni Eropa ini tidak muncul tanpa alasan. Kekecewaan mendalam terhadap Rusia memuncak setelah perang tahun 2023 dengan Azerbaijan.
Saat Baku meluncurkan operasi militer kilat untuk merebut kendali penuh atas Nagorno-Karabakh yang menyebabkan eksodus lebih dari 100.000 etnis Armenia pasukan penjaga perdamaian Rusia yang berada di lokasi justru berdiam diri.
"Kami menyadari bahwa arsitektur keamanan yang kami tempati saat ini tidak berfungsi," ujar Sargis Khandanyan, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri di Majelis Nasional Armenia, kepada BBC.
Khandanyan menambahkan bahwa kehadiran misi pemantau sipil Uni Eropa di perbatasan telah mengubah persepsi publik secara signifikan.
"Kami menyadari adanya tuntutan publik untuk hubungan yang lebih erat dengan Uni Eropa," lanjutnya.
Ketergantungan Energi dan Tekanan Ekonomi
Namun, transisi ini penuh dengan risiko. Armenia sangat bergantung pada sumber daya energi Rusia.
Dalam kunjungan Perdana Menteri Nikol Pashinyan ke Moskow pada 1 April lalu, Presiden Vladimir Putin secara eksplisit mengingatkan keuntungan ekonomi yang diterima Armenia dari Rusia.
Putin menunjukkan bahwa Armenia membeli gas Rusia seharga $177,50 per 1.000 meter kubik, sementara di Eropa harganya mencapai $600. "Perbedaannya besar, ini sangat signifikan," tegas Putin dalam pertemuan tersebut.
Tak hanya soal harga energi, tekanan ekonomi mulai terasa. Menjelang KTT di Yerevan, Rusia melarang impor air mineral asal Armenia.
"Ini adalah ciri khas bagaimana ancaman hibrida bekerja," kata Artur Papyan dari CyberHUB-AM, lembaga pemantau ruang informasi Armenia.
Menurutnya, setiap pernyataan pro-UE sering kali diikuti oleh hambatan logistik bagi truk Armenia di perbatasan Rusia.
Masa Depan yang Ambivalen
Ambisi Armenia untuk bergabung dengan Uni Eropa yang secara resmi dimulai melalui undang-undang parlemen pada Maret 2025 menghadapi tembok hukum yang nyata.
Putin memperingatkan bahwa keanggotaan Uni Eropa tidak kompatibel dengan Uni Ekonomi Eurasia. "Tidak mungkin berada dalam persatuan pabean dengan Uni Eropa dan Uni Ekonomi Eurasia secara bersamaan," ujar Putin.
Di sisi lain, proses perdamaian dengan Azerbaijan terus berlanjut di bawah bayang-bayang Barat. Melalui "Rute Trump untuk Perdamaian dan Kemakmuran Internasional" yang diumumkan di Gedung Putih, koridor konektivitas baru akan dibangun di sepanjang perbatasan Iran untuk menghubungkan pasar regional ke Eropa.
KTT Uni Eropa-Armenia pertama yang dihadiri Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa António Costa pada hari Selasa akan menjadi penentu.
Apakah Armenia mampu menyeimbangkan ketergantungan historisnya pada Rusia dengan aspirasi barunya menuju integrasi Eropa, atau justru akan terjebak dalam pusaran konflik diplomatik yang lebih besar.










