TVRINews – Jakarta
WHO Pantau Ketat Varian NB.1.8.1 yang Picu Lonjakan Kasus dan Rawat Inap, Nyeri Tenggorokan Tajam Jadi Ciri Khas
Varian baru Covid-19 kembali menjadi sorotan dunia. Setelah sempat mereda, kini muncul subvarian baru bernama Nimbus atau NB.1.8.1 yang mulai menyebar cepat di berbagai belahan dunia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian ini telah ditemukan di 22 negara per Mei 2025 dan ditetapkan sebagai "variant under monitoring" (VUM) karena potensinya memicu lonjakan kasus.
Hingga pertengahan Mei 2025, sebanyak 518 sekuens varian Nimbus telah disubmit ke database global GISAID. Angka ini setara dengan 10,7 persen dari seluruh sekuens Covid-19 global yang dikumpulkan selama minggu ke-17 tahun ini. Lonjakan prevalensi juga tercatat meningkat signifikan, dari 2,5 persen empat pekan lalu, menjadi perhatian serius WHO.
Meski sejauh ini data tidak menunjukkan bahwa Nimbus menyebabkan gejala yang lebih parah, peningkatan jumlah rawat inap di negara-negara yang terpapar menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
Salah satu ciri mencolok dari varian ini adalah gejala nyeri tenggorokan yang sangat tajam, digambarkan oleh praktisi kesehatan asal London, Dr. Nafid Asif, sebagai "sensasi silet" di bagian belakang kerongkongan saat menelan.
Nimbus sendiri merupakan bagian dari keluarga Omikron, yang selama ini dikenal dengan gejala yang relatif ringan. Gejala umum lainnya yang masih muncul di antaranya kelelahan, batuk ringan, demam, nyeri otot, dan hidung tersumbat.
WHO mendorong penggunaan vaksin Covid-19 yang telah diperbarui agar dapat memberikan perlindungan dari gejala berat, serta mengurangi laju penyebaran. Masyarakat juga diimbau untuk kembali disiplin menjalankan protokol kesehatan: menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak di tempat umum.
Editor : Redaksi TVRINews
Baca Juga:
| Di Forum ICI 2025, Menko AHY : Keberagaman Kita Sangat Besar, Tetapi Tujuan Kita Tetap Satu |










