TVRINews – New York
Industri Perhotelan Amerika Serikat Melaporkan Tingkat Okupansi di Bawah Target Jelang Turnamen
Ambisi besar di balik penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat kini tengah menghadapi realitas pasar yang dingin.
Meski digadang-gadang akan menjadi "tambang emas" ekonomi, laporan terbaru menunjukkan bahwa lonjakan reservasi hotel yang diharapkan belum terwujud di sebagian besar kota penyelenggara.
Berdasarkan survei April oleh American Hotel & Lodging Association (AHLA), tingkat pemesanan kamar di 11 kota tuan rumah di AS tercatat lebih rendah dari ekspektasi.
Di kota-kota seperti Kansas City, Boston, Philadelphia, San Francisco, dan Seattle, mayoritas operator hotel melaporkan bahwa permintaan saat ini bahkan berada di bawah rata-rata musiman mereka.
Faktor Penghambat: Visa dan Biaya Tinggi
Lesunya permintaan ini diduga dipicu oleh kombinasi kompleks antara kendala birokrasi dan beban biaya. AHLA mengidentifikasi beberapa faktor utama, di antaranya:
• Kekhawatiran penggemar internasional terkait waktu tunggu visa AS.
• Tingginya harga tiket pertandingan.
• Biaya transportasi antar-kota yang melonjak tajam.
"Semua orang berharap turnamen ini akan membawa arus pemesanan yang masif. Namun, dengan situasi global saat ini dan keterlibatan AS, dinamikanya ternyata berbeda bagi setiap pelaku industri," ujar Michael Black, Manajer Umum Hotel Cloud One di Manhattan, sebagaimana dikutip dari laporan Associated Press.
Strategi penetapan harga agresif oleh pihak hotel juga disinyalir menjadi bumerang. Di sekitar Stadion MetLife, New Jersey, beberapa hotel menaikkan tarif hingga empat kali lipat mencapai $1.300 per malam menjelang laga final pada 19 Juli mendatang.
Ronan Evain, Direktur Eksekutif Football Supporters Europe, menilai bahwa suporter berpengalaman cenderung menunda pemesanan hingga harga terkoreksi.
"Banyak pemilik hotel yang menyesal karena menetapkan harga terlalu tinggi, lalu panik dan menurunkannya di menit-menit terakhir," jelas Evain.
Di sisi lain, platform penyewaan jangka pendek seperti Airbnb justru mencatat tren positif. Data dari firma riset AirDNA menunjukkan peningkatan reservasi di wilayah pinggiran seperti Dallas/Fort Worth dan Miami, yang mengindikasikan bahwa wisatawan lebih memilih alternatif hunian yang lebih terjangkau dibanding hotel konvensional.
Efek 'Crowding Out' Andrew Zimbalist, Profesor Ekonomi dari Smith College, menjelaskan fenomena yang sering terjadi pada acara megah global.
Menurutnya, kerumunan pendukung sepak bola sering kali justru mengusir segmen pasar lain.
"Masalah umumnya adalah turis sepak bola beserta ekspektasi kemacetan, harga tinggi, dan masalah keamanan justru mengusir perjalanan bisnis normal dan pariwisata umum," ungkap Zimbalist.
Meski demikian, optimisme belum sepenuhnya pudar. Di New York City, Presiden Asosiasi Hotel Vijay Dandapani mencatat adanya kenaikan moderat sekitar 10% dibanding tahun lalu.
Sementara itu, FIFA melaporkan bahwa lebih dari 5 juta tiket telah terjual, sebuah angka yang diharapkan para pelaku industri dapat segera terkonversi menjadi hunian kamar pada detik-detik menjelang kick-off.
Hingga saat ini, industri perhotelan di Amerika Utara masih bersandar pada harapan bahwa gelombang wisatawan akan tiba dalam momentum yang lebih lambat namun masif, meskipun keuntungan besar yang dijanjikan di awal mulai terlihat tidak realistis.










