TVRINews – Washington DC
Anggaran Militer Membengkak, Rakyat Amerika Keluhkan Harga BBM yang Melambung.
Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan sedikitnya 29 miliar dolar AS hanya dalam kurun waktu 74 hari sejak konfrontasi bersenjata dengan Iran dimulai.
Angka fantastis tersebut mencakup pengeluaran untuk munisi dan peralatan tempur, namun belum menjumlahkan total kerugian akibat kerusakan aset di pangkalan militer.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, kembali mendatangi Capitol Hill guna mengajukan tambahan anggaran sebesar 1,5 triliun dolar AS kepada Kongres.
Hegseth menegaskan bahwa pendanaan masif tersebut merupakan syarat mutlak bagi Amerika Serikat untuk mempertahankan supremasi militer globalnya.
"Anggaran ini adalah apa yang dibutuhkan Amerika Serikat untuk tetap mempertahankan postur sebagai kekuatan militer paling efektif di dunia," ujar Hegseth di hadapan para pembuat kebijakan.
Polarisasi Politik dan Sentimen Publik
Meski faksi Republik secara umum memberikan dukungan terhadap kebijakan pertahanan ini, penolakan keras datang dari kubu Demokrat.
Gelombang skeptisisme ini diperkuat oleh hasil jajak pendapat terbaru dari Reuters, yang menunjukkan adanya kegelisahan kolektif di tingkat akar rumput.
Berdasarkan data Reuters, dua pertiga warga Amerika kini mengalami tekanan finansial akibat lonjakan harga bahan bakar yang dipicu oleh konflik tersebut.
Selain itu, mayoritas responden menyatakan keraguan mereka terhadap tujuan akhir pemerintahan Donald Trump dalam eskalasi perang ini.
Masa Depan Gencatan Senjata
Di tengah perdebatan anggaran, situasi di lapangan tetap berada di titik nadir. Hegseth menyatakan bahwa berbagai opsi militer tetap tersedia, termasuk kemungkinan eskalasi lebih lanjut.
Pernyataan ini sejalan dengan retorika Presiden Trump yang menyebut bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran saat ini sedang berada dalam kondisi "kritis" atau life support.










