TVRINews – Naypyidaw, Myanmar
Pemerintah militer Myanmar memindahkan mantan pemimpin berusia 80 tahun tersebut dari penjara ke lokasi khusus di Naypyidaw di tengah konflik sipil yang berkepanjangan.
Mantan pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, telah dipindahkan dari sel tahanan menuju status tahanan rumah di ibu kota Naypyidaw.
Hal ini menandai babak baru bagi peraih Nobel Perdamaian tersebut setelah lebih dari lima tahun sejak pemerintahannya digulingkan dalam kudeta militer.
Aung San Suu Kyi, yang kini berusia 80 tahun, telah berada dalam tahanan sejak militer mengambil alih kekuasaan pada Februari 2021.
Pengambilalihan kekuasaan tersebut memicu konflik bersenjata dan krisis ekonomi hebat di seluruh negeri, sementara kondisi penahanan Suu Kyi selama ini hampir tidak pernah diketahui publik.
Seorang anggota tim hukumnya mengonfirmasi bahwa perpindahan dilakukan pada Kamis 30 April 2026 malam waktu setempat.
Tim hukum direncanakan akan bertemu dengan Suu Kyi pada hari Minggu 2 Mei 2026 mendatang untuk membahas posisi hukumnya serta memberikan pasokan kebutuhan logistik.
"Situasi telah bergeser. Saya rasa ini bukan lagi sekadar kunjungan penjara standar, melainkan pertemuan di mana tim hukum akan berdiskusi langsung dengannya di lokasi tersebut," ujar perwakilan hukum Suu Kyi sebagaimana dikutip dari laporan lapangan.
Saluran media milik militer, MRTV, melaporkan bahwa sisa masa hukuman Suu Kyi telah diubah untuk dijalankan di "kediaman yang telah ditentukan." Meskipun demikian, pihak junta tidak merinci lokasi pasti di mana tokoh veteran politik itu ditempatkan.
Putra Suu Kyi, Kim Aris, memberikan pernyataan melalui media sosial dengan nada yang lebih hati-hati.
Ia menegaskan bahwa ibunya tetap menjadi "sandera yang terputus dari dunia luar." Aris mendesak adanya informasi terverifikasi mengenai kondisi kesehatan ibunya serta meminta akses komunikasi langsung hingga ibunya dibebaskan sepenuhnya.
Di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, juru bicara PBB Stephane Dujarric menyambut baik perubahan status penahanan ini.
Dujarric menyebutnya sebagai "langkah bermakna menuju terciptanya kondisi yang kondusif bagi proses politik yang kredibel." Namun, ia menekankan bahwa solusi politik yang berkelanjutan di Myanmar hanya bisa dicapai melalui penghentian kekerasan dan dialog inklusif.
Di sisi lain, kelompok aktivis Burma Campaign UK melontarkan kritik tajam. Mereka menuduh junta militer melakukan kampanye hubungan masyarakat (PR) yang sinis untuk mendapatkan legitimasi internasional.
"Mereka menggunakan tahanan politik sebagai bidak catur diplomatik, sementara di saat yang sama militer terus meningkatkan serangan udara yang menargetkan fasilitas kesehatan dan warga sipil," tulis organisasi tersebut dalam pernyataan resminya.
Hukuman Suu Kyi sendiri baru-baru ini dikurangi seperenam bagian sebagai bagian dari amnesti umum dalam rangka hari besar keagamaan Buddha.
Dari total vonis awal 33 tahun atas berbagai dakwaan termasuk korupsi dan pelanggaran hukum telekomunikasi yang dianggap banyak pihak bermotif politik masa hukuman Suu Kyi kini diperkirakan tersisa 13 tahun lagi.
Aung San Suu Kyi, putri dari pahlawan kemerdekaan Myanmar Jenderal Aung San, sebelumnya pernah menghabiskan total 15 tahun sebagai tahanan rumah di bawah rezim junta terdahulu.
Kini, di usianya yang senja, dunia kembali menyoroti nasib sosok yang pernah menjadi ikon demokrasi global tersebut di tengah gejolak Myanmar yang belum mereda.










