TVRINews – Washington DC
Senator Jack Reed Sebut Hegseth Beri Informasi Palsu Terkait Kemenangan Militer di Iran
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menghadapi kecaman keras dalam sidang senat pada Kamis 30 April 2026 waktu setempat.
Hegseth dituding telah melakukan "hiperbola yang berbahaya" terkait klaim kemenangan militer AS di Iran, sebuah narasi yang dinilai gagal memberikan gambaran akurat kepada Presiden Donald Trump mengenai realitas di medan perang.
Dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat yang berlangsung tegang tersebut, Senator Jack Reed, politisi senior dari Partai Demokrat, menyatakan bahwa alih-alih meraih kemenangan yang menentukan, rakyat Amerika justru harus menanggung beban ekonomi akibat perang yang tidak mereka dukung.
"Keluarga-keluarga di Amerika menanggung biaya perang yang sama sekali tidak ingin mereka lalui dan tidak memberikan keuntungan apa pun.
Namun, Sekretaris Hegseth, Anda sudah berani menyatakan kemenangan sebulan yang lalu," tegas Reed, merujuk pada lonjakan harga bahan bakar sebagai dampak nyata konflik tersebut.
Stagnasi Militer dan Retorika Garis Keras
Sidang ini merupakan hari kedua kesaksian Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, terkait pengajuan anggaran militer Pentagon yang mencatat rekor sebesar $1,45 triliun.
Perdebatan seputar kebuntuan perang dengan Iran yang telah berlangsung selama delapan minggu, di mana rezim Teheran berhasil menutup Selat Hormuz yang vital secara strategis.
Reed menyoroti bahwa retorika penuh kemenangan Hegseth berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. "Masalah dengan pernyataan Anda, Pak Sekretaris, adalah pernyataan tersebut dilebih-lebihkan secara berbahaya," ujar Reed.
"Rezim garis keras Iran tetap berkuasa. Mereka masih memiliki simpanan uranium yang diperkaya, dan program nuklir mereka tetap berjalan.
Saya khawatir Anda hanya menyampaikan apa yang ingin didengar oleh Presiden, bukan apa yang perlu ia dengar," tambah Senator asal Rhode Island tersebut.
Kritik tajam juga diarahkan pada gaya kepemimpinan Hegseth yang dianggap mengabaikan aturan pelibatan militer (rules of engagement).
Reed menyebut pernyataan Hegseth yang menjanjikan "tanpa ampun" kepada Iran sebagai potensi pelanggaran kejahatan perang, terutama setelah serangan rudal yang menewaskan ratusan siswi di Iran baru-baru ini.
Polarisasi di Capitol Hill
Menanggapi tekanan tersebut, Pete Hegseth memilih untuk menyerang balik. Ia melabeli para kritikus perang sebagai sosok yang "gegabah, lemah, dan bermental kalah."
"Lawan terbesar yang kita hadapi saat ini adalah para pengadu yang sembrono dan kata-kata kekalahan dari Demokrat di Kongres serta beberapa anggota Republik," balas Hegseth.
Ia bersikeras bahwa operasi militer ini adalah langkah bersejarah untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Namun, argumen Hegseth mengenai dukungan publik dipatahkan oleh Senator Kirsten Gillibrand dari New York.
Ia menekankan bahwa jajak pendapat secara konsisten menunjukkan mayoritas warga AS menolak perang ini karena dampak ekonomi dan risiko konflik yang meluas.
"Ini adalah perang yang tidak sah (unauthorized war). Mengapa Anda terus melanjutkan perang yang tidak didukung oleh rakyat Amerika?" tanya Gillibrand retoris.
Persidangan sempat terhenti sejenak ketika sekelompok pengunjuk rasa meneriakkan slogan "penjahat perang" sebelum akhirnya dikeluarkan dari ruangan oleh petugas keamanan.
Sesi ini mempertegas jurang pemisah yang semakin dalam di Washington mengenai arah kebijakan luar negeri AS di bawah pemerintahan Trump.










