TVRINews – Washington
Serangan meluas hingga ke Teheran, ketegangan kawasan meningkat tajam di tengah ancaman eskalasi konflik terbuka.
Militer Amerika Serikat dilaporkan telah melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak yang mencoba melintasi Selat Hormuz menuju Pulau Kharg, Kamis 16 Juli 2026 pagi waktu setempat. Insiden ini terjadi di tengah gelombang serangan intensif yang kini dilaporkan telah mencapai ibu kota Iran, Teheran.
Berdasarkan laporan Reuters dan BBC News, Komando Pusat Militer AS mengonfirmasi pihaknya menembakkan rudal Hellfire ke arah cerobong asap kapal tanker tersebut setelah kapal itu mengabaikan serangkaian peringatan keamanan, yang merupakan bagian dari penerapan kembali blokade laut oleh AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Eskalasi Serangan di Berbagai Wilayah
Selain melumpuhkan kapal tanker, AS melancarkan serangan terhadap pertahanan pesisir dan situs penyimpanan rudal di Pulau Greater Tunb. Laporan dari media pemerintah setempat menyatakan bahwa ledakan juga terdengar di Teheran pada Kamis pagi, menandai pertama kalinya ibu kota tersebut menjadi target dalam babak konflik terbaru ini.
Iran merespons tindakan tersebut dengan melancarkan serangan balasan yang menyasar Bahrain dan Kuwait.
Meski belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur secara spesifik, pejabat Iran mengklaim bahwa rangkaian serangan AS selama lima hari terakhir telah menyebabkan lebih dari 35 orang tewas dan sedikitnya 300 orang lainnya mengalami luka-luka.
Diplomasi yang Terancam Runtuh
Situasi kian memburuk setelah gencatan senjata antara kedua belah pihak dinyatakan gagal total. Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan keraguannya terhadap masa depan nota kesepahaman (MOU) yang sempat disepakati untuk meredakan ketegangan nuklir.
"Jika Iran tidak memperoleh manfaat dari nota kesepahaman tersebut, kami tidak memiliki alasan untuk mematuhinya," ujar Ghalibaf dalam sebuah pernyataan resmi, seraya menambahkan bahwa negaranya kini berada dalam kondisi "perang eksistensial" dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam keterangannya di Pennsylvania mengklaim bahwa pihaknya terus menekan Iran agar segera mencapai kesepakatan. Namun, Trump juga memberikan sinyal kemungkinan perluasan operasi militer, termasuk ancaman terhadap fasilitas bawah tanah yang terkait dengan program nuklir Iran.
Tanda Goodwill di Tengah Konflik
Di tengah eskalasi militer yang meningkat, sebuah langkah diplomatik kecil muncul. Presiden Trump mengonfirmasi bahwa Iran telah mengizinkan kepulangan seorang warga Amerika, Dena Karari, yang sebelumnya dilaporkan ditahan sejak Desember 2024.
"Amerika Serikat menghargai gestur iktikad baik dari pihak Iran ini," tulis Trump melalui platform Truth Social.
Hingga saat ini, pasar global terus memantau pergerakan harga minyak mentah. Harga Brent crude dilaporkan bertahan di atas angka $85 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar atas stabilitas jalur perdagangan Selat Hormuz yang krusial bagi pasokan energi global.










