TVRINews – Xaysomboun, Laos
Tim ahli dari misi Tham Luang dikerahkan menerobos lorong sempit sedalam 60 sentimeter demi menyelamatkan tujuh warga yang terjebak banjir.
Tim penyelam komando yang sebelumnya terlibat dalam misi penyelamatan dramatis tim sepak bola remaja Tailan pada tahun 2018, kini dikerahkan ke wilayah tengah Laos, guna memimpin operasi penyelamatan terhadap tujuh orang yang telah terjebak selama lima hari di dalam kompleks goa terpencil yang dilanda banjir parah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kelompok tersebut memasuki area pergoaan di Provinsi Xaysomboun Rabu 20 Mei Pekan lalu. Keberadaan mereka di lokasi tersebut diduga kuat untuk melakukan aktivitas perburuan satwa liar serta pencarian bijih emas.
Namun, curah hujan yang sangat tinggi memicu terjadinya tanah longsor besar yang kemudian menutup akses satu-satunya pintu masuk goa tersebut.
Otoritas pemerintahan Laos yang menerapkan kontrol ketat terhadap sirkulasi media domestik, sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi ataupun tanggapan saat dihubungi untuk konfirmasi lebih lanjut mengenai rincian insiden ini.
Dokumentasi visual yang dirilis oleh kelompok relawan penyelamat asal Tailan di lokasi menunjukkan perjuangan berat personel penyelamat. Mereka harus merangkak dan memanjat di antara celah batuan yang gelap dan sangat sempit, dengan sebagian besar lorong telah terendam sepenuhnya oleh luapan air berlumpur.
Tim teknis melaporkan bahwa salah satu terowongan utama menuju titik interior goa hanya memiliki ketinggian vertikal sekitar 60 sentimeter.
Kengkard Bongkawong, Kepala Operasi Metta Tham Rescue yang memimpin satuan penyelamat Tailan, menjelaskan fokus ganda dalam strategi evakuasi saat ini.
Di saat tim eksternal berupaya keras memompa keluar debit air dari lorong-lorong goa, tim internal fokus memasang tali pengaman sebagai jalur panduan bagi para penyelamat di dalam goa.
"Rute yang dihadapi sebenarnya tidak terlalu rumit, tetapi tantangan utamanya terletak pada keterbatasan ruang. Medan ini sangat sempit sehingga kami terpaksa merangkak dengan posisi tubuh miring untuk bisa melewatinya. Selain itu, formasi batuan di dalamnya sangat tajam," ujar Kengkard Bongkawong menerangkan situasi taktis di lapangan Senin 25 Mei 2026.
Kengkard menambahkan bahwa meskipun tim belum menangkap sinyal kehidupan secara langsung dari area terdalam, ia optimis seluruh korban masih bertahan hidup.
Asumsi ini didasarkan pada kesaksian seorang penyintas yang berhasil meloloskan diri sesaat sebelum jalur tertutup. Penyintas tersebut mengonfirmasi adanya sebuah ruangan di bagian goa yang lebih dalam yang posisinya berada di atas permukaan air banjir.
"Saya sangat yakin mereka masih hidup karena ketersediaan pasokan udara di dalam ruang goa tersebut masih mencukupi," tegas Kengkard. Ia sendiri merupakan bagian penting dari tim selam legendaris yang mengevakuasi 12 pesepak bola muda beserta pelatihnya dari Goa Tham Luang, Provinsi Chiang Rai, Tailan, beberapa tahun silam.
Hingga Minggu 24 Mei malam, tim penyelamat telah berhasil mendekati titik yang berjarak hanya sekitar 40 meter dari lokasi yang diduga menjadi tempat perlindungan kelompok tersebut. Namun, operasi terpaksa ditangguhkan sementara waktu akibat hujan yang terus mengguyur, yang mengakibatkan endapan sedimen tebal masuk dan memblokir visibilitas serta akses fisik terowongan.
"Celah yang tersisa saat ini hanya selebar 50 sentimeter, sangat kecil, sehingga prioritas utama kami adalah membersihkan tumpukan sedimen di titik tersebut terlebih dahulu. Langit-langit terowongan ini sangat rendah, mengharuskan personel merangkak dengan sudut kemiringan tubuh hingga 45 derajat," lanjut Kengkard menjelaskan hambatan teknis di lapangan.
Skala operasi internasional ini kian diperkuat pada hari Senin dengan bergabungnya Mikko Paasi, seorang penyelam profesional asal Finlandia yang juga veteran misi Tham Luang, bersama dengan penyelam ahli Tailan, Norrased Palasing.
Jakkrit Taengtang, teknisi penyelamat Tailan dari Saithan Saphanboon Foundation, membagikan perkembangan terbaru melalui laporan digitalnya. Ia menyebutkan bahwa tim logistik terpaksa mendirikan kamp dan menginap di sekitar lokasi karena akses menuju kompleks goa memerlukan pendakian fisik sejauh 5 kilometer melewati medan pegunungan yang terjal.
"Tingkat kesulitan dari seluruh operasi ini sepenuhnya bergantung pada dinamika cuaca dan intensitas hujan. Kami sempat diperintahkan untuk mundur beberapa waktu lalu demi keselamatan kru akibat kenaikan volume air yang sangat cepat di dalam goa," ujar Jakkrit.
Hingga saat ini, belum dapat dipastikan secara independen apakah aktivitas pencarian emas yang dilakukan kelompok tersebut merupakan bagian dari penambangan rakyat skala kecil atau terafiliasi dengan korporasi tambang resmi.
Sektor pertambangan alluvial yang mencakup komoditas bernilai tinggi seperti emas, berlian, dan platina mengalami pertumbuhan masif di Laos dalam beberapa tahun terakhir.
Data dari Stimson Center, sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Amerika Serikat, mengindikasikan bahwa hampir 200 tambang aluvial baru dibuka di wilayah Laos sepanjang periode 2023 hingga 2025.
Kondisi ekologis ini mendorong Pemerintah Laos mengeluarkan kebijakan moratorium formal tahun lalu guna menghentikan penerbitan izin tambang emas aluvial baru atas dasar kekhawatiran dampak lingkungan.










