TVRINews – Makkah
Di Tengah Gencatan Senjata Iran dan Krisis Energi Global, Jutaan Umat Muslim Dunia Padati Makkah
Lebih dari 1,5 juta jemaah haji dari berbagai penjuru dunia telah tiba di Arab Saudi untuk memulai ibadah haji tahunan. Momentum spiritual yang menjadi salah satu rukun Islam ini berlangsung di bawah bayang-bayang situasi geopolitik Timur Tengah yang dinamis, menyusul gencatan senjata yang rapuh dalam konflik Iran serta krisis energi global yang tengah melanda.
Komandan Pasukan Paspor Haji Arab Saudi, Saleh bin Saad al-Murabba, mengonfirmasi bahwa hingga Senin 25 Mei 2026, lebih dari 1,5 juta jemaah dari luar negeri telah memasuki wilayah kerajaan. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah menjelang puncak ritual ibadah.
Bagi jutaan umat Muslim, kesempatan menginjakkan kaki di tanah suci merupakan pemenuhan impian seumur hidup. Samya Abdul Moneim, seorang jemaah asal Mesir kepada Jurnalis Al Jazeera mengungkapkan rasa syukur yang mendalam karena dapat menunaikan kewajiban religius yang diperuntukkan bagi setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial ini.
"Saya merasa sangat terberkati dan bahagia. Ini adalah perasaan yang sungguh tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Alhamdulillah, saya berada dalam keberkahan," ujar Samya dikutip Selasa 26 Mei 2026.
Sebelum bergerak menuju kota tenda di Mina, para jemaah terlebih dahulu melaksanakan tawaf berjalan mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram di bawah sengatan cuaca ekstrem.
Guna mengantisipasi suhu udara yang sangat tinggi, sebagian jemaah tampak melindungi diri menggunakan payung dan kipas portabel. Di beberapa titik, para sukarelawan juga bersiaga membagikan air minum serta menyemprotkan air guna membantu jemaah mengatasi cuaca panas.
Transformasi Spiritual di Tengah Tantangan Fisik
Ibadah haji diakui secara luas sebagai sebuah perjalanan yang menuntut ketahanan fisik sekaligus menawarkan transformasi spiritual yang mendalam bagi mereka yang menjalaninya.
Youssef Chouhoud, seorang pakar ilmu politik asal Amerika Serikat yang menjadi salah satu jemaah di Mina, menggambarkan pengalamannya sebagai sebuah titik balik personal yang besar.
"Ibadah haji ini, pada hakikatnya, adalah sebuah proses hard reset (pengaturan ulang total) bagi saya. Bagi banyak jemaah, ini adalah hal paling sulit yang pernah mereka lakukan sepanjang hidup mereka. Namun, tidak ada sesuatu yang begitu bermakna yang bisa diraih dengan mudah," ungkap Chouhoud.
Chouhoud menambahkan bahwa dirinya merasa sangat terinspirasi menyaksikan bagaimana para jemaah saling berlomba dalam kebaikan, menunjukkan solidaritas, dan saling membantu sepanjang prosesi ibadah.
Refleksi di Tengah Ketidakpastian Global
Pelaksanaan haji tahun ini berlangsung bersamaan dengan momentum diplomasi internasional yang krusial. Saat ini, Amerika Serikat, Iran, dan sekutu regional tengah terlibat dalam pembahasan "nota kesepahaman" (MoU).
Diplomasi yang diinisiasi Washington tersebut diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz, sekaligus meredakan krisis energi global yang sempat terpicu akibat ketegangan militer serta penutupan jalur perairan strategis tersebut.
Kendati situasi internasional masih diliputi ketidakpastian, para jemaah memilih untuk sepenuhnya berserah diri pada keyakinan religius mereka.
Pada hari ini Selasa 26 Mei 2026, seluruh jemaah dijadwalkan berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf. Momen ini merupakan puncak spiritual ibadah haji, di mana jutaan manusia berdiri bersama dalam doa, memohon ampunan, dan mendoakan keselamatan keluarga mereka di tanah air.










