TVRINews – Jalur Gaza
Serangan drone terhadap prosesi pemakaman di kamp pengungsi Nuseirat kembali memicu sorotan tajam terkait efektivitas kesepakatan gencatan senjata yang terus diuji.
Sedikitidaknya 14 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan militer Israel di Jalur Gaza pada Jumat 17 Juli 2026 waktu setempat, termasuk sebuah serangan drone yang menghantam prosesi pemakaman di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah.
Data dari badan pertahanan sipil Gaza dan pihak Rumah Sakit Al-Awda mengonfirmasi, serangan di area pasar Al-Balata tersebut menewaskan delapan orang dan menyebabkan sedikitnya 20 warga lainnya mengalami luka-luka.
Menurut para saksi mata di lokasi kejadian, drone tersebut menyasar kerumunan pelayat yang baru saja keluar dari Masjid Ahmad Yassin untuk mengantarkan jenazah korban serangan sebelumnya.
"Para peserta prosesi pemakaman baru saja keluar dari masjid ketika sebuah drone menghantam kerumunan di tengah iring-iringan tersebut," ujar Hani Mahmoud, koresponden Al Jazeera yang melaporkan dari Gaza City.
Dalam pernyataannya, militer Israel membenarkan telah melancarkan operasi udara di wilayah tersebut. Pihak militer mengeklaim menargetkan sel militan, namun menambahkan bahwa mereka "menyadari klaim mengenai adanya individu yang tidak terlibat yang terdampak akibat serangan tersebut," dan menyatakan insiden ini tengah dalam peninjauan.
Pihak Hamas segera mengeluarkan kecaman keras, menyebut insiden tersebut sebagai bentuk pelanggaran sistematis terhadap perjanjian gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak Oktober lalu.
Peningkatan Intensitas Serangan
Data dari kelompok riset Armed Conflict Location & Event Data (ACLED) mencatat adanya eskalasi serangan sejak Mei. Tercatat terjadi lebih dari 40 serangan udara sepanjang bulan lalu, yang merupakan angka tertinggi sejak periode gencatan senjata dimulai.
Laporan terbaru dari surat kabar Israel, Haaretz, juga menyoroti dampak kemanusiaan yang mendalam. Publikasi tersebut menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata nominal dimulai, rata-rata satu anak tewas setiap harinya akibat operasi militer, dengan total mencapai 274 anak hingga saat ini.
Situasi di lapangan digambarkan semakin mencekam. "Langit di atas Jalur Gaza dipenuhi dengungan drone yang terdengar konstan di mana-mana, di samping kehancuran infrastruktur yang terus berlanjut," tambah Mahmoud.
Selain insiden di Nuseirat, serangkaian serangan lainnya terjadi di berbagai titik. Di Beit Lahia, seorang wanita berusia 52 tahun dilaporkan tewas setelah drone Israel menjatuhkan bom di dekat Sekolah Abu Tammam. Serangan terpisah di kota Az-Zawayda, al-Sawarha, serta sebuah apartemen di Gaza City juga menambah daftar korban jiwa, termasuk warga yang sedang mengungsi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda penurunan intensitas operasi militer, meskipun tekanan internasional terus mendesak agar gencatan senjata dihormati demi memulihkan akses kemanusiaan dan stabilitas bagi penduduk di wilayah yang terdampak perang tersebut.










