TVRINews – Paris, Prancis
Demonstrasi Menuntut Keadilan Sosial Berujung Bentrokan Sengit dengan Aparat di Berbagai Kota
Gelombang unjuk rasa berskala besar yang menerjang berbagai wilayah Prancis berujung pada aksi kekerasan secara masif pada Sabtu 17 Oktober 2026 waktu setempat. Lebih dari 1.200 orang ditangkap oleh pihak kepolisian dan 150 personel keamanan mengalami luka-luka setelah gelombang protes yang awalnya digerakkan oleh para pelajar memuncak menjadi kerusuhan jalanan, aksi pembakaran gedung publik, serta penjarahan pertokoan.
Aksi yang bermula dari keresahan atas keterbatasan fasilitas pendidikan di pinggiran kota Paris ini dengan cepat meluas menjadi gerakan nasional. Para demonstran menumpahkan kemarahan atas melambungnya biaya hidup, kenaikan harga bahan bakar, serta kemunduran sistem kesejahteraan sosial.
Kendati ratusan ribu warga turun ke jalan secara damai, kelompok radikal bertopeng memanfaatkan momentum tersebut untuk menyerang fasilitas umum, toko barang mewah, hingga kendaraan kepolisian.
Di Kota Limoges, bangunan bersejarah Balai Kota yang berusia 143 tahun mengalami kerusakan parah akibat dibakar massa. Prefek Wilayah Limoges, Maurice Barate, mengonfirmasi bahwa atap gedung telah runtuh dan dua pertiga struktur luar bangunan musnah.
Pihaknya mengategorikan peristiwa tersebut sebagai insiden tragis bagi warisan budaya daerah. Sementara itu di Marseille, massa sempat membobol gedung pemerintah daerah sebelum akhirnya dipaksa mundur oleh aparat keamanan.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengecam keras aksi anarkis yang dinilai telah menunggangi demonstrasi damai warga. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku kriminal oportunis tanpa harus memberlakukan status darurat nasional.
"Aksi demonstrasi resmi telah disusupi oleh para pembuat kerusuhan dan kriminal oportunis yang memanfaatkan situasi untuk melakukan penjarahan. Kami akan melacak serta menindak tegas mereka," tegas Laurent Nuñez dikutip The Guardian Minggu 18 Oktober 2026.
Di pusat Kota Paris, kawasan Place de la République dan Boulevard Magenta berubah menjadi medan bentrokan. Petugas kepolisian menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang melemparkan kembang api serta batu jalanan. Sejumlah toko elektronik, gerai busana ternama, hingga fasilitas perbankan menjadi sasaran perusakan dan penjarahan.
Situs sejarah dan kawasan strategis seperti Champs-Élysées serta Arc de Triomphe dijaga ketat oleh kepolisian, sementara puluhan stasiun kereta bawah tanah (Mélro) ditutup demi keamanan. Mayoritas warga di sekitar lokasi konflik terpaksa mengunci rapat kediaman mereka guna menghindari paparan asap gas air mata yang membubung tinggi.
Kerusuhan ini memperluas tekanan politik terhadap Presiden Emmanuel Macron menjelang akhir masa jabatannya, di tengah kondisi masyarakat yang terpolarisasi. Sebelumnya, Presiden Macron telah mengimbau masyarakat untuk menjaga ketertiban serta menghormati hukum yang berlaku.
"Hak untuk menyampaikan pendapat dan berdemonstrasi dijamin oleh konstitusi. Namun, hak tersebut harus diimbangi dengan rasa hormat terhadap sesama serta perlindungan atas fasilitas umum. Segala bentuk perusakan dan pembuat kerusuhan sama sekali tidak dapat ditoleransi," ujar Emmanuel Macron dalam pernyataan resminya.
Hingga saat ini, lembaga pengawas kepolisian masih melakukan investigasi mendalam terkait puluhan laporan dugaan tindak kekerasan berlebihan oleh petugas di lapangan. Di sisi lain, pemerintah mencatat lebih dari 900 personel aparat keamanan mengalami cedera sejak gelombang protes ini bergulir dalam beberapa pekan terakhir.










