TVRINews – Tel Aviv
Shin Bet mengonfirmasi pemulangan putra sulung perdana menteri Israel menyusul ancaman keamanan tingkat tinggi yang terdeteksi di Amerika Serikat.
Putra sulung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Yair Netanyahu, dikabarkan telah diterbangkan kembali ke Israel dari Amerika Serikat. Keputusan ini diambil menyusul adanya ancaman keamanan serius terhadap keselamatan pribadinya di luar negeri.
Badan intelijen domestik Israel, Shin Bet, melalui keterangan resminya pada Minggu 30 Agustus 2026 malam, menyatakan bahwa langkah evakuasi tersebut diambil berdasarkan penilaian situasi terkini.

(Yair Netanyahu, Putra Sulung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. [Foto: @yair_netanyahu])
"Terdapat ancaman signifikan untuk mencelakai Yair Netanyahu, dan mengingat hal tersebut serta setelah melalui penilaian, sebuah keputusan diambil untuk segera mengevakuasinya bersama tim pengamanan serta memulangkannya ke Israel," demikian pernyataan resmi Shin Bet. Kendati demikian, pihak agensi tidak memerinci secara spesifik sumber dari ancaman tersebut.
Sebelumnya, lembaga penyiaran Amerika Serikat, Newsmax, melaporkan bahwa Yair Netanyahu sempat menjadi target dari dugaan rencana pembunuhan oleh pihak Iran pada Desember lalu, ketika ia masih menetap di Florida.
Otoritas intelijen Israel dikabarkan telah meneruskan informasi mengenai dugaan ancaman tersebut kepada aparat penegak hukum di Amerika Serikat.
Laporan itu mengemuka tidak lama setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyampaikan kepada stasiun televisi Israel, Channel 14, bahwa Iran secara langsung mengincar salah satu anggota keluarganya.

(PM Israel Benjamin Netanyahu (dua kanan) bersama istrinya, Sara, dan kedua putra mereka, Yair dan Avner, pada 21 Oktober 2016. [Foto: KOBI GIDEON/GPO])
Selama bermukim di Florida dalam beberapa tahun terakhir, Yair Netanyahu yang dikenal sebagai seorang siniar (podcaster) dan aktivis media sosial kerap berada di bawah pengawalan ketat tim keamanan negara.
Gaya hidupnya di luar negeri sempat memicu diskursus publik di dalam negeri, terutama di tengah mobilisasi ratusan ribu tentara cadangan Israel pasca-serangan 7 Oktober 2023.









