TVRINews – Teheran
Eskalasi Teluk Meningkat, Militer AS Gempur Sasaran di Pulau Larak.
Washington melancarkan serangan udara terbaru di kawasan Timur Tengah minggu 30 Agustus 2026 Malam waktu setempat. Militer Amerika Serikat menghancurkan dua unit peluncur rudal milik Iran di Pulau Larak, menyusul indikasi persiapan pemasangan ranjau laut di jalur strategis Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan dari mitra BBC News, CBS News, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyebutkan bahwa pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terpantau tengah bersiap menembakkan roket yang dilengkapi dengan ranjau laut. Tindakan tersebut dinilai mengancam keamanan jalur pelayaran internasional.
"Pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) teramati bersiap meluncurkan roket dengan ranjau laut ke Selat Hormuz," ujar juru bicara Centcom, Komandan Tim Hawkins, seperti dikutip dari CBS News Senin 31 Agustus 2026.
Insiden ini menandai operasi militer terbuka pertama Washington di wilayah teritorial Iran sejak akhir Juli lalu, menyusul kebijakan penundaan kampanye militer yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden Donald Trump.
Pulau Larak sendiri terletak di dekat pelabuhan utama Bandar Abbas, tepat di jalur perlintasan vital Selat Hormuz. Otoritas maritim mencatat kawasan tersebut belakangan menjadi titik pemeriksaan ketat bagi kapal-kapal tanker yang melintas.
Pihak Teheran bereaksi keras atas serangan tersebut. Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, mengecam tindakan militer Washington dan menyebutnya sebagai keputusan keliru yang akan memicu konsekuensi serius.
"Musuh akan membayar konsekuensi dari salah perhitungan ini di bidang ekonomi maupun militer," ujar Mohebbi, sebagaimana dilansir oleh kantor berita resmi Iran, Tasnim.
Sebagai bentuk pembalasan, IRGC mengklaim telah meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal balistik yang menargetkan fasilitas militer di Yordania, termasuk pangkalan udara King Hussein dan al-Azraq.
Sementara itu, militer Yordania mengonfirmasi adanya upaya penyusupan rudal ke wilayah udara mereka. Juru bicara angkatan bersenjata Yordania, dalam pernyataan yang dirilis kantor berita negara Petra News Agency, menyatakan bahwa sistem pertahanan udara berhasil mendeteksi dan melumpuhkan ancaman tersebut.
"Sistem pertahanan udara mencegat delapan rudal yang melanggar wilayah udara Kerajaan pada fajar hari ini, Senin," demikian bunyi pernyataan resmi militer Yordania.
Ketegangan geopolitik ini kian memperkeruh situasi di kawasan yang telah memasuki bulan keenam konflik terbuka sejak akhir Februari lalu. Sebelum eskalasi memuncak, Selat Hormuz dikenal sebagai jalur nadi bagi seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Hingga berita ini diturunkan, pihak BBC News masih berupaya meminta tanggapan resmi lanjutan dari pihak Centcom terkait eskalasi terbaru di kawasan Teluk.










