TVRINews – Teheran
Teheran meminta kawasan Asia Barat menyamakan persepsi menghadapi tekanan asing dan krisis jalur pelayaran energi
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mendesak para pemimpin negara Teluk untuk mengidentifikasi "musuh sejati" mereka dan menghadapinya. Sikap ini diambil Teheran yang tetap mempertahankan pendirian kerasnya terkait pembatasan di Selat Hormuz, di tengah upaya para mediator regional yang mendorong pemulihan diplomasi.
"Rekomendasi tegas dan berulang saya kepada para penguasa negara-negara Islam, khususnya negara-negara Asia Barat dan Teluk, adalah untuk mengidentifikasi musuh sejati kalian, memahami rencana mereka, dan menghadapinya," ujar Khamenei dalam pesan yang diterbitkan pada hari Minggu 30 Agustus 2026.
Khamenei sendiri belum pernah muncul di muka publik sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu yang menewaskan ayah sekaligus pendahulunya, Ayatollah Ali Khamenei.
Pesan tersebut muncul ketika kebuntuan atas Selat Hormuz jalur air penting tempat lewatnya sekitar 20 persen pengiriman minyak global dan gas alam cair sebelum perang masih belum terselesaikan.
Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi sebelumnya menyampaikan, bahwa Iran telah mencapai pemahaman dengan Oman terkait jalur maritim sementara. Namun, penerapannya bergantung pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat dalam nota kesepahaman yang ditandatangani pertengahan Juni lalu, yang kini telah kedaluwarsa.
"Selat Hormuz ditutup," ujar Gharibabadi, sambil menambahkan bahwa kapal apa pun yang ingin melintas harus berkoordinasi dengan Iran. "Pelaksanaan pemahaman ini menuntut pihak lain, khususnya AS, untuk memenuhi komitmennya. Kapan pun komitmen tersebut dipenuhi, Iran juga akan mengambil langkah-langkahnya," imbuhnya seperti dikutip Al jazeera Minggu 30 Agustus 2026.
Iran dan Oman sebelumnya membahas koridor pelayaran gabungan sementara serta pembersihan ranjau, sementara Qatar dan Pakistan meningkatkan upaya mediasi. Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, mengunjungi Teheran pada hari Kamis untuk membahas de-eskalasi dan pemulihan pelayaran melalui Hormuz.
Kendati demikian, catatan perlintasan melalui selat tersebut tetap rendah. Kantor berita Reuters, mengutip data Kpler, melaporkan bahwa tujuh kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada hari Kamis, turun dari 17 kapal sehari sebelumnya dan berada di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai 15 kapal.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan pada hari Jumat bahwa hingga 400 kapal yang membawa sekitar 6.000 pelaut belum dapat meninggalkan Teluk secara aman sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai.
"Dibutuhkan kemauan politik dan kerja sama yang diperbarui," ujar Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez, menyerukan langkah-langkah praktis untuk memulihkan kebebasan navigasi di selat tersebut.
Dorongan diplomatik ini berjalan seiring dengan meningkatnya tekanan ekonomi terhadap Teheran. Inflasi tahunan Iran mencapai 66 persen bulan lalu, sementara Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa ekspor dan impor merosot hampir 35 persen akibat sanksi AS dan blokade angkatan laut.
Washington juga memperluas kampanye sanksinya dengan menargetkan individu serta entitas yang beretalian dengan Iran, termasuk membatasi transaksi dolar cabang bank Mesir Banque Misr di Uni Emirat Arab atas dugaan transaksi dengan Teheran.
Meskipun menghadapi tekanan tersebut, Teheran tidak menunjukkan tanda-tanda mengendurkan pendiriannya atas Hormuz. Pezeshkian justru menyerukan agar kesepakatan interim bulan Juni dengan Washington dihidupkan kembali. "Kita dapat menyelesaikan masalah kita dan memperoleh hak-hak istimewa kita melalui nota kesepahaman tersebut," pungkasnya.










