TVRINews – New Jersey
FIFA Hadirkan Pertunjukan Musik saat Turun Minum, Akankah Jadi Standar Baru Sepak Bola Dunia?
Final Piala Dunia antara Spanyol melawan Argentina di MetLife Stadium, New Jersey, Minggu 19 Juli 2026 malam waktu setempat, bakal mencatat sejarah baru. Untuk pertama kalinya, FIFA menyelenggarakan pertunjukan musik di babak turun minum yang menampilkan bintang global seperti Madonna, Shakira, BTS, dan Justin Bieber.
Langkah FIFA ini memicu perdebatan sengit di dunia sepak bola. Masalah utamanya terletak pada durasi istirahat yang membengkak hingga 25 menit.
Padahal, International Football Association Board (Ifab) menetapkan aturan bahwa jeda babak seharusnya maksimal 15 menit.
FIFA mendeskripsikan perhelatan ini sebagai "perayaan penting di persimpangan antara olahraga, musik, dan dampak global." Namun, inovasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah sepak bola membutuhkan hiburan tambahan, atau justru berisiko mengganggu integritas olahraga itu sendiri?
Menyeimbangkan Olahraga dan Hiburan
James Massing, yang memimpin tim di Live Nation dalam mengorganisir pertunjukan tersebut, menegaskan bahwa ekspektasi penggemar terhadap ajang olahraga besar kini telah meningkat. Menurutnya, industri olahraga harus berinovasi agar mampu bersaing dengan berbagai bentuk hiburan langsung lainnya.

(Keluarga Beckham dan sejumlah selebritas lainnya telah menjadi pemandangan yang konsisten di Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.(Foto: BBC News))
"Menambahkan pertunjukan musik membuat sebuah laga final terasa lebih seperti sebuah final yang sesungguhnya," ujar Massing kepada BBC. Ia mencontohkan kesuksesan konser The Killers sebelum laga final Liga Champions tahun ini yang mampu memicu puncak energi di dalam stadion.
Mengenai kekhawatiran durasi jeda, Massing memastikan bahwa integritas olahraga tetap diutamakan. "Kesejahteraan pemain adalah hal yang fundamental dan tidak ada kompromi terkait hal itu," tambahnya.
Kritik dari Penggemar dan Pengamat
Di sisi lain, banyak pihak menilai kehadiran pertunjukan ini berlebihan. Content creator sepak bola asal Inggris, Ellis Platten, menyatakan ketidaksetujuannya. Ia berpendapat bahwa final Piala Dunia sudah menjadi tontonan paling banyak disaksikan di dunia tanpa perlu penambahan elemen hiburan.

(Final Piala Dunia Antarklub menampilkan pertunjukan paruh waktu, dengan panggung yang dibangun di area tribun Stadion MetLife. (Foto: BBC News))
"Sebagai penggemar sepak bola di stadion, orang-orang sudah cukup gelisah di akhir babak pertama. Anda hampir harus melakukan pergantian pemain karena masalah kebugaran akibat terlalu lama tidak bergerak," ujar Platten.
Senada dengan Platten, jurnalis olahraga Betty Glover yang meliput langsung di Amerika Serikat menilai bahwa sepak bola tidak memerlukan pertunjukan semacam itu. Glover mengamati bahwa atmosfer Piala Dunia tahun ini terasa sangat "Amerika," di mana fokus pada analisis pertandingan sering kali teralihkan oleh tayangan iklan yang masif.
Tren Global atau Ancaman Integritas?
Meski di Amerika Serikat pertunjukan di tengah pertandingan telah menjadi budaya, seperti di ajang Super Bowl, penerimaan di Eropa dan wilayah lain masih cenderung lambat.
Massing menilai bahwa saat ini banyak olahraga tengah bertransformasi menjadi lebih global, yang secara alami mendorong penyelenggara untuk menjadikan sebuah pertandingan sebagai sebuah "peristiwa dan momen," bukan sekadar laga sepak bola biasa.
Namun, kekhawatiran tetap ada bahwa tren ini akan merambah ke kompetisi domestik yang dirasa kurang relevan. Glover sendiri meragukan konsep ini akan diadopsi secara luas di masa depan.
"Jika hiburan mampu menarik penggemar baru tanpa mengorbankan sepak bolanya sendiri, maka itu adalah hal yang positif," pungkasnya.
Hingga kini, publik masih menanti apakah eksperimen berani FIFA ini akan diterima secara permanen oleh komunitas sepak bola global, atau justru menjadi pengingat bahwa di lapangan hijau, pemainlah yang seharusnya menjadi bintang utama.










