TVRINews, Shanghai
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong penguatan transfer teknologi kecerdasan artifisial (AI) dan robotika dari Tiongkok sebagai upaya mempercepat transformasi industri nasional. Langkah tersebut dilakukan melalui kunjungan benchmarking ke sejumlah perusahaan teknologi terkemuka di sela agenda World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, Tiongkok, Sabtu, 18 Juli 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Airlangga bersama delegasi Indonesia meninjau perkembangan teknologi di Unitree Robotics, Deep Robotics, serta China Information and Communication Technologies (CICT)-FiberHome. Menurut Airlangga, penguasaan teknologi AI dan robotika menjadi bagian penting dari strategi Indonesia membangun industri masa depan.
"Kunjungan ini merupakan keberlanjutan dari peta jalan Making Indonesia 4.0 yang telah diluncurkan sejak 2018. Kini, Indonesia harus mampu menguasai teknologi tersebut dengan mengintegrasikannya bersama kecerdasan buatan (AI). Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk secara konsisten membangkitkan kemandirian teknologi maju," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Kementerian Koordinator Perekonomian, Minggu, 19 Juli 2026.
Saat mengunjungi Unitree Robotics, Airlangga menyaksikan demonstrasi robot humanoid dan robot quadruped yang telah dimanfaatkan untuk inspeksi industri, patroli gardu listrik, hingga riset AI. Pemerintah menilai teknologi tersebut memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi operasional dan keselamatan kerja di sektor pertambangan, minyak dan gas, serta ketenagalistrikan.
Karena itu, pemerintah mendorong terwujudnya transfer teknologi, pengembangan rantai pasok, hingga perakitan robot di Indonesia agar mendukung program hilirisasi industri dan pengembangan sumber daya manusia.
Selanjutnya, Airlangga mengunjungi Deep Robotics yang mengembangkan robot quadruped untuk inspeksi industri, tanggap darurat, dan operasi berisiko tinggi. Teknologi tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan Indonesia, terutama untuk mendukung sektor energi, pertambangan, serta memperkuat kapasitas penanggulangan bencana di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.
Peluang kerja sama juga terbuka melalui kemitraan sistem integrasi dengan perusahaan lokal guna memperkuat daya saing industri nasional.
Rangkaian kunjungan ditutup dengan peninjauan ke CICT dan anak usahanya, FiberHome. Perusahaan tersebut telah memiliki pengalaman panjang di Indonesia dalam penyediaan perangkat telekomunikasi dan jaringan serat optik. Ke depan, pemerintah melihat peluang kolaborasi investasi yang lebih luas, termasuk pengembangan pusat data dan infrastruktur komunikasi generasi berikutnya.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi langkah konkret Indonesia dalam merealisasikan komitmennya sebagai negara pendiri Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Artifisial Dunia (World Artificial Intelligence Cooperation Organization/WAICO). Pemerintah berharap kemitraan investasi dan transfer teknologi dengan perusahaan-perusahaan teknologi global dapat mempercepat transformasi digital, memperkuat daya saing industri nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.










