TVRINews – Hormozgan, Iran selatan
Eskalasi militer di Timur Tengah meningkat tajam setelah serangan mematikan terhadap pasukan Amerika Serikat di Yordania memicu operasi pembalasan udara secara intensif.
Militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara terhadap fasilitas Garda Revolusi Iran pada Minggu 19 Juli 2026. Operasi ini merupakan langkah balasan atas serangan sebelumnya yang menewaskan sejumlah tentara Amerika di Yordania, sebuah insiden yang memperuncing ketegangan di kawasan strategis Selat Hormuz.
Serangan ini menjadi babak baru dalam kampanye militer selama sepekan terakhir, di mana saling serang telah meluas melintasi perbatasan berbagai negara sekutu AS di Timur Tengah. Eskalasi ini terjadi di tengah runtuhnya kesepakatan damai sementara yang sempat diharapkan mampu meredam konflik.
Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam pernyataan resminya mengonfirmasi bahwa mereka telah melumpuhkan fasilitas pengawasan pesisir, sistem pertahanan udara, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone milik Garda Revolusi.
Langkah ini menandai pertama kalinya AS secara spesifik menargetkan Garda Revolusi, pilar kekuatan utama yang mengendalikan persenjataan rudal balistik Iran.
Rekaman visual yang dirilis oleh militer AS memperlihatkan penggunaan jet tempur dan rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari laut, menyasar titik-titik pertahanan yang tersembunyi di kawasan pegunungan Iran.
Dampak Kemanusiaan dan Regional
Data dari militer AS mencatat bahwa serangan Iran terhadap sebuah pangkalan di Yordania mengakibatkan dua tentara AS tewas, satu dinyatakan hilang, dan empat lainnya memerlukan perawatan medis intensif. Secara akumulatif, sejak dimulainya konflik, 16 personel militer AS telah gugur dengan lebih dari 430 lainnya mengalami luka-luka.

(Sejumlah orang berdiri di atas jembatan yang hancur pasca serangan di provinsi Hormozgan, Iran selatan, Sabtu, 18 Juli 2026. (Amirhosein Khorgooi/Iranian Students’ News Agency via AP))
Sementara itu, otoritas Iran melaporkan setidaknya 50 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat serangan balasan AS.
Ketegangan kini membayangi Uni Emirat Arab (UEA) setelah kantor berita semiresmi Iran, Fars, mengeluarkan ancaman terhadap infrastruktur sipil di Dubai dan Abu Dhabi. Menanggapi ancaman tersebut, Kementerian Luar Negeri UEA dalam pernyataan resminya menyerukan agar semua pihak menahan diri.
"UEA menekankan bahwa penargetan terhadap infrastruktur dan fasilitas sipil di kawasan ini merupakan pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip hukum internasional yang tidak dapat diterima atau dibenarkan dalam situasi apa pun," tegas pernyataan tersebut.
Ketidakpastian di Selat Hormuz
Konflik ini berakar pada perebutan pengaruh di Selat Hormuz, jalur krusial yang melayani seperlima perdagangan minyak dan gas bumi dunia. AS saat ini dilaporkan telah memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk memutus distribusi minyak mentah.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, melalui pernyataan resmi Sabtu lalu, memperingatkan AS akan adanya "pelajaran yang tak terlupakan" jika terus melancarkan serangan.
Di sisi lain, negosiator Iran menyatakan bahwa Teheran resmi menangguhkan komitmennya terhadap kesepakatan damai sementara yang ditandatangani bulan lalu.
Di tengah situasi yang kian memanas, Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed al-Budaiwi, menuding tindakan Iran yang menyasar fasilitas sipil sebagai pelanggaran hukum perang. Saat ini, dunia internasional menantikan langkah diplomatik lebih lanjut guna mencegah krisis ini tereskalasi menjadi konflik regional yang lebih luas.










