TVRINews – Kyiv
Lima Bom Udara Rusia Hantam Kawasan Pemukiman Zaporizhzhia, Tiga Anak Turut Menjadi Korban.
Eskalasi serangan udara di wilayah tenggara Ukraina kembali memakan korban jiwa dari kalangan sipil. Pihak berwenang setempat mengonfirmasi sedikitnya 11 orang, termasuk tiga anak-anak, tewas akibat runtutan serangan udara Rusia yang menghantam kota Zaporizhzhia pada Sabtu, 10 Oktober 2026 dini hari waktu setempat.
Kepolisian Nasional Ukraina menyatakan bahwa pasukan Rusia menjatuhkan lima bom udara terpandu (guided aerial bombs) yang menyasar langsung kawasan pemukiman padat penduduk. Hantaman amunisi berdaya ledak tinggi tersebut merusak berat dua bangunan tempat tinggal warga.
Tragedi ini terjadi hanya sehari setelah para pejabat Ukraina dan Eropa menggelar pertemuan di Miami, Amerika Serikat, sebagai bagian dari dorongan diplomatik terbaru untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun tersebut.
Kepala Administrasi Militer Regional Zaporizhzhia, Mykhailo Semikin, menyampaikan pembaruan data terkait jumlah korban di lokasi kejadian.
"Jumlah korban tewas akibat serangan udara di Zaporizhzhia terus meningkat. Saat ini, 11 warga sipil dikonfirmasi meninggal dunia, dan tiga di antaranya adalah anak-anak," ujar Mykhailo Semikin.
Ia menambahkan bahwa tim penyelamat masih terus menyisir puing-puing bangunan untuk mencari korban yang kemungkinan masih tertimbun.
Di lokasi kejadian, petugas layanan darurat Ukraina bekerja cepat mengevakuasi para korban dari balik reruntuhan beton dan puing bangunan. Seorang relawan penyelamat, Daniil Pishkin, menggambarkan situasi mencekam saat proses evakuasi berlangsung.
"Kami melihat beberapa orang tertimbun di bawah reruntuhan seorang wanita, suaminya, dan seorang anak," kata Daniil Pishkin kepada kantor berita AFP.
Ia menambahkan bahwa meski dua orang berhasil diselamatkan dari kepingan bangunan, seorang anak perempuan tidak dapat diselamatkan.
Dampak mematikan dari serangan subuh tersebut juga dirasakan langsung oleh warga lokal. Iryna (69), salah seorang penghuni apartemen yang selamat, menuturkan bahwa ia hanya memiliki sedikit waktu untuk berlindung di kamar mandi begitu sirene bahaya udara berbunyi.
"Dua tetangga saya tewas. Usia mereka 75 tahun. Tubuh mereka terpental ke jalanan dan tidak sempat mendapat pertolongan medis di rumah sakit," tutur Iryna kepada AFP.
Kota Zaporizhzhia, yang terletak beberapa puluh kilometer dari garis depan pertempuran, menjadi salah satu wilayah yang paling sering mengalami serangan udara berkelanjutan. Dalam beberapa bulan terakhir, intensitas gempuran ke wilayah perkotaan Ukraina meningkat signifikan dan terus menambah daftar panjang korban sipil.
Hingga saat ini, serangkaian upaya diplomasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat untuk menghentikan invasi Rusia belum membuahkan hasil konkrit di lapangan.










