TVRINews, Yaman
Eskalasi konflik Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara lanjutan ke Iran dan kelompok Houthi mengumumkan embargo maritim terhadap kapal-kapal Saudi di jalur vital Laut Merah.
Kelompok pemberontak Houthi di Yaman secara resmi mengumumkan penerapan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Kebijakan sepihak ini diambil sebagai bentuk pembalasan atas blokade yang telah berlangsung serta insiden serangan udara baru-baru ini yang menyasar Bandara Internasional Sanaa Senin 20 Juli 2026.
Langkah strategis tersebut langsung memicu kekhawatiran global, mengingat kawasan perairan yang menjadi target merupakan salah satu jalur arteri terpenting bagi distribusi pasokan energi dan logistik internasional.
Pengumuman yang disampaikan pada hari Selasa 21 Juli 2026 waktu setempat itu menegaskan eskalasi konflik yang berpotensi mengubah peta kekuatan militer dan ekonomi regional.

(Kepulan asap setelah serangan udara di Bandara Internasional Sanaa. (Foto: Xinhua))
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan dalam sebuah pernyataan video bahwa pelarangan aktivitas pelayaran bagi kapal-kapal Saudi akan berlaku seketika. Ia mendefinisikan kebijakan tersebut menggunakan prinsip pembalasan setimpal.
"Kami menegaskan hak rakyat kami untuk merespons blokade dengan blokade, serta siap menghadapi tindakan gegabah musuh dengan eskalasi yang komprehensif dan tegas," ujar Yahya Saree, menggambarkan kebijakan tersebut sebagai persamaan mata ganti mata.
Sementara itu, Wakil Kepala Kantor Media Houthi, Nasruddin Amer, memperjelas melalui platform media sosial X bahwa Selat Bab al-Mandeb akan ditutup bagi pihak Saudi. Kebijakan ini diklaim sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai blokade tidak adil terhadap rakyat Yaman selama lebih dari satu dekade.
Sebagai catatan geografis dan ekonomi, Selat Bab el-Mandeb yang terletak di ujung selatan Semenanjung Arab adalah gerbang utama menuju Laut Merah. Jalur ini dilewati oleh sekitar 12 persen volume perdagangan global. Selain itu, seperempat dari total perdagangan kontainer dunia melintasi selat dengan lebar 32 kilometer atau setara 20 mil tersebut menuju maupun dari Terusan Suez.
Menanggapi ancaman penutupan jalur perairan strategis tersebut, pihak militer Arab Saudi menegaskan komitmennya untuk memastikan keamanan navigasi internasional tetap terjaga. Mayor Jenderal Turki al-Malki selaku juru bicara militer Saudi menyatakan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas.
"Semua ancaman Houthi terhadap kapal-kapal yang melintas akan ditangani dengan cepat dan tegas, karena ancaman tersebut merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan dikategorikan sebagai tindakan pembajakan maritim," tegas Maj. Gen. Turki al-Malki.
Tekanan terhadap Arab Saudi kian berlipat ganda karena kerajaan tersebut kini sangat mengandalkan Pipa Timur-Barat menuju Laut Merah sebagai rute alternatif. Langkah ini diambil menyusul penutupan Selat Hormuz yang berada dalam cengkeraman Iran setelah serangan Amerika Serikat dan Israel.
Berdasarkan analisis lembaga energi independen Rystad Energy yang berbasis di Texas, sekitar 2,5 juta barel minyak mentah per hari kini berada dalam bayang-bayang risiko gangguan pasokan menyusul ketegangan terbaru ini.










