TVRINews, Jakarta
Situasi di Selat Hormuz terus memburuk. Iran melaporkan dua kapal tanker minyak meledak saat melintasi jalur selatan selat tersebut. Pada saat yang sama, Kuwait kembali melaporkan serangan terhadap fasilitas desalinasi air, lalu lintas kapal menurun, dan harga minyak dunia melonjak hingga menembus US$90 per barel.
Dikutip dari Reuters, Senin, 20 Juli 2026, pemerintah Kuwait menyatakan salah satu pabrik desalinasi air kembali menjadi sasaran serangan yang memicu kebakaran untuk hari kedua berturut-turut. Pemerintah Kuwait menyebut insiden itu sebagai serangan langsung terhadap infrastruktur sipil yang sangat vital.
Ketegangan di Selat Hormuz juga meningkat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat konfrontasi terbuka usai saling menuding berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Senin dini hari menyatakan dua kapal tanker minyak meledak dan tidak dapat melanjutkan pelayaran setelah mencoba melintasi jalur selatan Selat Hormuz. Iran menyebut jalur tersebut sebagai rute yang tidak aman.
IRGC mengeklaim kedua kapal melintasi jalur tersebut di bawah tekanan militer Amerika Serikat. Namun, Iran tidak mengungkap identitas kapal, bendera negara asal, jumlah awak, maupun ada atau tidaknya korban jiwa.
Iran juga memperingatkan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap berbahaya selama konflik dengan Amerika Serikat masih berlangsung.
"Jalur ini tidak akan aman untuk transit produk petrokimia, bahkan tidak untuk satu tetes minyak dan gas," demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.
Dalam pernyataan terpisah, IRGC kembali menegaskan jalur tersebut tidak akan aman untuk pengiriman pupuk, minyak, maupun gas selama "agresi AS terus berlanjut di kawasan tersebut". Iran juga memperingatkan militer Amerika Serikat agar bersiap menghadapi pembalasan atas tindakan yang disebut melanggar hukum.
Sementara itu, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan menerima informasi mengenai sebuah kapal yang terbakar sekitar delapan mil laut di barat laut Kumzar, Oman, pada Minggu malam. Hingga kini, penyebab kebakaran tersebut belum dapat diverifikasi.
Data LSEG menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terus menurun. Sebanyak empat kapal melintasi selat itu pada Minggu, turun dari delapan kapal sehari sebelumnya.
Meski lalu lintas kapal berkurang, sejak Jumat sedikitnya tiga kapal tanker pengangkut produk minyak dan satu kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) telah memasuki Selat Hormuz untuk memuat minyak.
Meningkatnya risiko terhadap jalur distribusi energi global ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Pada Senin, harga minyak naik sekitar 2 persen dan diperdagangkan di atas US$90 per barel.
Di tengah meningkatnya konflik, militer Amerika Serikat juga melaporkan tambahan korban jiwa. Seorang personel dilaporkan tewas pada Sabtu di Irak utara saat melakukan peledakan terkendali terhadap puing-puing drone serang Iran yang sebelumnya berhasil dijatuhkan.
Sebelumnya, militer AS melaporkan dua personel tewas di Yordania dan seorang lainnya dinyatakan hilang saat bertugas.
Pada Minggu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menemukan "jenazah yang belum dapat diidentifikasi" di lokasi serangan pada Jumat.
"Proses pemeriksaan untuk memverifikasi identitas jenazah tersebut masih berlangsung," kata CENTCOM.
Dengan laporan terbaru tersebut, jumlah personel militer Amerika Serikat yang tewas sejak perang dimulai mencapai 17 orang, sedangkan lebih dari 420 personel lainnya mengalami luka-luka.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Februari lalu. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menyasar negara-negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat.
AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik dan mendorong perdamaian jangka panjang. Namun, ketegangan kembali meningkat pekan lalu akibat sengketa di Selat Hormuz hingga memicu aksi saling serang antara kedua negara.










