TVRINews – Washington DC
Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara di dekat Bandar Abbas saat pembicaraan gencatan senjata di Qatar masih menemui jalan buntu.
Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara baru yang menargetkan situs rudal dan kapal-kapal Iran di wilayah selatan Iran senin 25 Mei 2026 malam waktu setempat atau selasa dini hari.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri guna melindungi pasukan AS dari potensi ancaman militer Iran.
Serangan ini terjadi di tengah momentum krusial, saat perundingan diplomatik untuk mengakhiri konflik kedua negara justru dilaporkan belum mencapai titik temu yang pasti.
Ketegangan di Selat Hormuz
Juru Bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, menjelaskan bahwa militer AS tetap berupaya menahan diri selama masa gencatan senjata yang sedang berlangsung, sembari terus mempertahankan keselamatan pasukannya.
Berdasarkan laporan The New York Times, serangan udara tersebut menyasar kawasan dekat Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan strategis di bagian selatan Iran yang menjadi markas pangkalan angkatan laut di Selat Hormuz.
Sebelumnya, media resmi pemerintah Iran melaporkan adanya investigasi dari otoritas setempat menyusul suara ledakan yang terdengar di area tersebut.
Hingga saat ini, Teheran belum memberikan respons resmi terkait dampak taktis dari serangan tersebut terhadap kelanjutan prospek perdamaian.

Asap membubung di Lebanon selatan setelah serangan Israel pada hari Senin 25 Mei 2026, terlihat dari kota Nabatieh. (Foto: Teh Guardian)
Diplomasi yang Rumit dan Isu Krusial
Di sektor diplomasi, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengonfirmasi bahwa peluang kesepakatan masih terbuka. Rubio menunjuk pada pertemuan penting di Doha yang melibatkan negosiator ulung serta Menteri Luar Negeri Iran dengan Perdana Menteri Qatar.
"Kita akan melihat apakah kemajuan bisa dicapai. Saat ini terjadi banyak diskusi timbal balik mengenai diksi spesifik dalam dokumen awal, sehingga ini akan memakan waktu beberapa hari," ujar Rubio kepada jurnalis saat melakukan kunjungan resmi ke India.
Rubio juga menambahkan bahwa Presiden Donald Trump telah menyatakan keinginannya untuk mencapai kesepakatan tersebut. Namun, Rubio menegaskan sikap tegas Washington:
"Dia (Trump) hanya akan membuat kesepakatan yang bagus, atau tidak ada kesepakatan sama sekali."
Di pihak lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqai, membenarkan adanya kemajuan signifikan pada sejumlah poin krusial, tetapi ia menolak narasi bahwa penandatanganan perjanjian akan terjadi dalam waktu dekat.
"Adalah benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan pada sebagian besar isu yang dibahas. Namun, untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan kesepakatan sudah dekat tidak ada yang bisa klaim seperti itu," tegas Baqai. Selasa 26 Mei 2026
Hambatan Komunikasi Komando Tertinggi
Draf nota kesepahaman (MoU) yang tengah digodok dilaporkan mencakup tiga poin utama:
1. Perpanjangan masa gencatan senjata selama 60 hari.
2. Pembukaan kembali Selat Hormuz untuk jalur pelayaran internasional.
3. Rencana negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran.
Namun, lambatnya laju birokrasi komunikasi di internal Iran disinyalir menjadi salah satu faktor penghambat. Laporan intelijen AS yang dikutip oleh CBS News mengindikasikan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, saat ini berada di lokasi rahasia yang tidak diumumkan.
Khamenei dilaporkan terluka akibat serangan Israel pada hari pertama perang yang juga menewaskan ayah sekaligus pendahulunya. Kondisi tersebut menyulitkan komunikasi langsung dengan para utusan diplomatik Iran di meja perundingan.
Doktrin Nuklir dan Latar Belakang Konflik
Salah satu isu paling sensitif dalam negosiasi ini adalah cadangan uranium Iran. Pada awal konflik, Iran diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen hanya selangkah lagi dari tingkat 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir.
Mengenai hal ini, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa uranium yang telah diperkaya tersebut harus segera diserahkan kepada AS atau dihancurkan di lokasi melalui koordinasi bersama Republik Islam Iran.
Konflik bersenjata ini pertama kali pecah pada 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel meluncurkan serangan skala besar ke Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan menyerang balik aset Israel dan negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk.
Langkah Iran menutup Selat Hormuz sempat memicu lonjakan harga minyak mentah global secara signifikan sebelum akhirnya kedua belah pihak sepakat melakukan gencatan senjata sejak 8 April lalu.










