TVRINews – Kuwait
Satu Warga India Tewas dan Puluhan Terluka dalam Agresi Udara yang Mengancam Gencatan Senjata AS-Iran.
Ketegangan di wilayah Teluk kembali membara setelah serangan pesawat nirawak (drone) Iran menghantam Bandara Internasional Kuwait pada Rabu 3 Juni 2026, Otoritas setempat mengonfirmasi serangan tersebut menewaskan satu orang dan melukai lebih dari 60 orang lainnya, serta menyebabkan kerusakan pada sejumlah kantor misi diplomatik.
Kementerian Luar Negeri India memastikan bahwa korban tewas merupakan warga negara mereka. Dalam pernyataan resminya, New Delhi mengecam keras insiden tersebut.
"Kami kembali menyerukan kepada semua pihak untuk menghentikan serangan semacam ini," tulis pernyataan Kementerian Luar Negeri India, yang juga menambahkan bahwa beberapa warga mereka turut menjadi korban luka.
Merespons serangan ini, pemerintah Kuwait mengambil langkah diplomatik tegas dengan mengusir dua diplomat Iran dan memberikan tenggat waktu 24 jam untuk meninggalkan negara tersebut. Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait menyebut aksi ini sebagai "agresi kriminal Iran."
Balasan Terhadap Operasi Militer AS
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) segera mengklaim tanggung jawab atas serangan tersebut. Pihak Teheran menyatakan aksi ini merupakan bentuk pembalasan atas serangan Amerika Serikat terhadap pangkalan militer mereka di Pulau Qeshm serta penembakan kapal tanker minyak milik Iran.
Sebelumnya, Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi telah meluncurkan serangan udara "defensif" di Pulau Qeshm, Selat Hormuz, yang menargetkan stasiun kendali darat militer Iran. Centcom juga melaporkan telah menembak jatuh tiga drone ofensif Iran yang mengancam pelayaran sipil, serta mengintersepsi dua rudal yang mengarah ke Kuwait dan tiga rudal ke Bahrain.
Ketegangan ini dipicu oleh tindakan militer AS yang melumpuhkan sebuah kapal tanker tanpa muatan berbendera Botswana yang berlayar menuju Iran, sebagai bagian dari blokade laut Selat Hormuz yang dimulai sejak 13 April lalu. Pesawat tempur AS menembakkan rudal Hellfire ke ruang mesin kapal setelah kru kapal mengabaikan peringatan berulang kali.
Kementerian Luar Negeri Iran di Teheran menegaskan bahwa Kuwait dan Bahrain memegang "tanggung jawab langsung" atas agresi AS, mengingat kedua negara tersebut menjadi markas bagi pangkalan militer Washington.
Diplomasi di Tengah Kebuntuan
Insiden berdarah ini terjadi di tengah mandeknya negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan optimismenya dalam sebuah wawancara di podcast Pod Force One, dengan mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, terlibat dalam pembicaraan tersebut.
"Kami tampaknya berhubungan cukup baik. Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu pada suatu titik nanti," ujar Trump.
Namun, laporan dari mitra berita BBC, CBS News, menyebutkan bahwa Trump meminta perubahan mendasar pada draf perjanjian damai, termasuk aturan di Selat Hormuz dan pemindahan uranium yang diperkaya tingkat tinggi dari Iran. Tuntutan baru ini langsung dibantah oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, yang menuduh Washington "terus-menerus mengubah pandangan dan mengajukan tuntutan yang kontradiktif."
Di Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan di hadapan Kongres bahwa pihak AS tidak akan memberikan kelonggaran sanksi ekonomi secara cuma-cuma kepada Teheran.
"Saat ini, apa pun yang didiskusikan... setiap kelonggaran sanksi bersifat berbasis syarat. Artinya, harus ada imbal balik dari alasan mengapa sanksi itu diterapkan sejak awal, yaitu program nuklir mereka," tegas Rubio dalam sidang komite yang berlangsung tegang tersebut.










