TVRINews - Gaza
Kerusakan jaringan air dan sanitasi membuat jutaan warga Gaza semakin bergantung pada distribusi air darurat.
Krisis air di Gaza semakin memburuk setelah kerusakan fasilitas pengolahan air, sumur, jaringan distribusi, dan sistem pembuangan limbah mempersempit akses warga terhadap air bersih. Kondisi tersebut tidak hanya memperbesar kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit, terutama bagi anak-anak.
Sejumlah badan kemanusiaan menyebut kerusakan infrastruktur air yang berlangsung selama konflik telah membuat sebagian besar masyarakat bergantung pada truk tangki dan bantuan darurat. Sistem distribusi publik yang sebelumnya menjadi sumber utama kebutuhan air kini tidak lagi berfungsi secara normal di banyak wilayah.
Fasilitas air di Sheikh Radwan dan Deir Al-Balah dilaporkan mengalami kerusakan pada akhir Agustus. Salah satunya merupakan sumur dan fasilitas desalinasi yang mendapat dukungan UNICEF dan sebelumnya melayani lebih dari 4.000 orang.
Kerusakan tersebut menambah panjang daftar fasilitas air yang terdampak konflik. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya memperkirakan sekitar 67 persen infrastruktur air dan sanitasi Gaza telah rusak atau hancur hingga Juni 2024.
UNICEF saat ini mendukung sejumlah fasilitas desalinasi skala kecil dan sumur yang telah direhabilitasi. Namun, kebutuhan air tetap jauh melampaui kapasitas yang tersedia, terutama di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Gaza City dan Khan Younis.
Menurut Medecins Sans Frontieres (MSF), sekitar 90 persen penduduk Gaza kini menghadapi tingkat kerawanan air menengah hingga tinggi.
Munyah Al-Raeeini, wakil koordinator air, sanitasi, dan kebersihan MSF, mengatakan kepada Arab News sabtu 5 september 2026 bahwa rata-rata ketersediaan air minum bagi warga hanya sekitar 4,5 liter per orang per hari.
Angka tersebut berada jauh di bawah standar kemanusiaan yang disebut MSF, yakni sekitar 21 liter per orang per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk minum, memasak, kebersihan diri, dan keperluan rumah tangga.
Al-Raeeini mengatakan persoalan yang dihadapi Gaza tidak lagi sebatas kekurangan air. Kerusakan sistem air dan sanitasi telah menciptakan persoalan kesehatan masyarakat yang jauh lebih luas.
Keterbatasan suku cadang, bahan kimia pengolahan air, pelumas, dan bahan bakar juga membuat fasilitas yang masih beroperasi semakin sulit dipertahankan.
Menurut Al-Raeeini, tim MSF bahkan harus menggunakan kembali sejumlah komponen dari peralatan yang tersedia agar sistem reverse osmosis tetap dapat bekerja.
Juru bicara UNICEF Louise Wateridge mengatakan kepada Arab News bahwa sekitar 70 persen fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan di Gaza mengalami kerusakan.
Ketika jaringan perpipaan tidak mampu beroperasi secara normal, truk pengangkut air menjadi salah satu sumber utama air minum. UNICEF memperkirakan sekitar 74 persen rumah tangga bergantung pada sistem tersebut.
Namun, distribusi melalui truk tidak mampu menutup seluruh kebutuhan. Wateridge mengatakan 63 persen warga bahkan tidak memperoleh enam liter air minum per hari.
Kondisi tersebut menunjukkan perubahan drastis dibandingkan situasi sebelum 7 Oktober 2023, ketika warga Gaza disebut memiliki akses sekitar 80 hingga 85 liter air per orang setiap hari.
Risiko Kesehatan Meningkat
Kekurangan air bersih tidak berhenti pada persoalan konsumsi. Ketika masyarakat kesulitan memperoleh air untuk mencuci, memasak dan menjaga kebersihan lingkungan, risiko penyebaran penyakit ikut meningkat.

(Seorang anak mengisi wadah dari sisa-sisa pipa bawah tanah di sebuah kamp pengungsian korban perang, kawasan Sheikh Radwan, Kota Gaza. (Foto: AFP))
Wateridge memperingatkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan. Konsumsi air yang tercemar dalam jangka panjang dapat memperburuk diare, kekurangan gizi, serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
“Air yang aman sangat penting bagi kehidupan,” kata Wateridge kepada Arab News.
Ia menjelaskan bahwa kombinasi air yang tidak aman, sanitasi buruk, dan kekurangan pangan dapat menciptakan siklus penyakit serta malnutrisi yang sulit diputus.
Dampaknya juga dirasakan fasilitas kesehatan. Rumah sakit membutuhkan air bersih untuk minum, sanitasi, sterilisasi peralatan dan pencegahan infeksi. Ketika pasokan tidak stabil, risiko penularan penyakit meningkat di tengah sistem kesehatan yang sudah menghadapi tekanan berat.
MSF mencatat sejumlah penyakit yang ditangani berkaitan dengan buruknya kondisi air dan sanitasi. Data organisasi tersebut menunjukkan infeksi saluran pernapasan akut mencapai 46 persen dari kasus yang dilaporkan, penyakit kulit 31 persen, sementara diare akut 21 persen.
Al-Raeeini mengatakan sebagian penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat memiliki akses memadai terhadap air bersih dan lingkungan yang sehat.
Persoalan semakin kompleks karena banyak warga tinggal di tempat penampungan yang padat. Mereka yang telah mendapat perawatan medis dapat kembali ke lingkungan dengan sanitasi buruk sehingga menghadapi risiko infeksi berulang.
Sistem Limbah Ikut Lumpuh
Kerusakan fasilitas pengolahan air limbah memperbesar ancaman kontaminasi. UNICEF menyatakan enam fasilitas pengolahan air limbah di Gaza telah berhenti beroperasi. Sekitar 70 persen stasiun pemompaan limbah juga dilaporkan tidak berfungsi.
Akibatnya, sekitar 154.600 meter kubik air limbah yang belum diolah diperkirakan masuk ke lingkungan setiap hari.

(Warga Palestina yang mengungsi berkumpul untuk mengambil air dari sebuah penampungan air di kamp pengungsian di Bureij, Jalur Gaza tengah (Foto: AFP))
Limbah tersebut berpotensi mencemari air tanah dan lingkungan permukiman. Risikonya semakin besar di wilayah yang menampung masyarakat dalam jumlah besar akibat perpindahan penduduk.
UNRWA mengatakan masyarakat yang berada di sekitar kawasan dengan pembatasan akses menghadapi kesulitan lebih besar untuk memperoleh pasokan air. Akses terhadap fasilitas yang membutuhkan perbaikan maupun jalur distribusi air juga terbatas.
Dalam kondisi tersebut, sumur yang masih berfungsi dan pengiriman menggunakan truk menjadi penopang utama bagi sejumlah komunitas.
Namun, UNRWA menekankan bahwa mekanisme tersebut merupakan solusi darurat dan tidak dapat menggantikan sistem air publik yang berfungsi secara normal.
Pemulihan Membutuhkan Waktu
Kerusakan yang luas membuat persoalan Gaza tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah pengiriman air melalui truk. Fasilitas desalinasi, sumur, pompa, jaringan distribusi dan sistem pengolahan limbah membutuhkan perbaikan besar, bahkan dalam sejumlah kasus kemungkinan harus dibangun kembali.
Organisasi kemanusiaan juga menghadapi hambatan dalam memasukkan peralatan, suku cadang, bahan bakar, dan material yang diperlukan untuk mempertahankan fasilitas yang masih beroperasi.
MSF menyatakan sejumlah permintaan pengiriman perlengkapan sejak awal 2026 tidak mendapatkan persetujuan, termasuk kebutuhan minyak mesin untuk pengoperasian sumur dan kendaraan pengangkut air.
Kondisi tersebut menciptakan persoalan berlapis. Kerusakan infrastruktur mengurangi pasokan air, sementara keterbatasan peralatan dan bahan pendukung menghambat perbaikan. Ketika pasokan berkurang, kebutuhan terhadap bantuan darurat pun semakin besar.
Pemulihan jaringan air Gaza pada akhirnya membutuhkan akses kemanusiaan yang berkelanjutan, ketersediaan peralatan dan bahan pengolahan, serta investasi besar untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak.
Namun, persoalannya bukan hanya mengenai kemampuan mengembalikan aliran air. Bagi anak-anak yang telah mengalami kekurangan gizi, infeksi berulang, dan paparan air tercemar dalam waktu panjang, dampak kesehatan dan perkembangan dapat berlangsung jauh setelah kerusakan fisik fasilitas diperbaiki.
Krisis air Gaza karena itu telah berkembang menjadi persoalan kemanusiaan dan kesehatan masyarakat yang kompleks. Pemulihan tidak hanya akan diukur dari berapa banyak air yang dapat disalurkan setiap hari, tetapi juga dari kemampuan memulihkan sistem yang menopang kesehatan, sanitasi, dan kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.










