TVRINews, Inggris
Hari ini menandai satu tahun sejak Sir Jim Ratcliffe, melalui grup Ineos, resmi mengakuisisi 27,7 persen saham minoritas di Manchester United.
Langkah ini semula diharapkan membawa angin segar bagi klub, namun setahun berlalu, justru banyak tantangan yang dihadapi.
Dari sisi prestasi di lapangan, Manchester United menjalani musim yang buruk. Setelah memenangkan Piala FA di bawah Erik ten Hag, ia justru dipecat empat bulan kemudian dan digantikan oleh Ruben Amorim.
Namun, pergantian pelatih belum membawa perubahan signifikan, dengan United kini terpuruk di papan bawah klasemen dan bahkan disebut-sebut berpotensi terdegradasi.
Dari aspek keuangan, kondisi United juga mengkhawatirkan. Klub mencatat kerugian sebesar £113 juta dalam laporan keuangan terakhir dan harus berhemat untuk mematuhi aturan profitabilitas dan keberlanjutan (PSR) Liga Premier.
Ineos bahkan terpaksa memangkas lebih dari 250 pekerjaan di berbagai level klub untuk menekan biaya operasional.
Dari sisi manajemen, Ineos telah merombak struktur kepemimpinan dengan mendatangkan Omar Berrada sebagai CEO dan Jason Wilcox sebagai direktur teknis.
Namun, pergantian eksekutif yang terlalu cepat, termasuk pemecatan Dan Ashworth dalam waktu kurang dari lima bulan, memunculkan pertanyaan tentang stabilitas klub.
Tak hanya itu, kebijakan transfer United juga mendapat sorotan. Lebih dari £200 juta telah dihabiskan untuk pemain baru, namun performa tim justru semakin menurun.
Para pengamat menilai komposisi skuad saat ini tidak cukup kompetitif untuk bersaing di level tertinggi Liga Premier.
Dengan semua permasalahan ini, banyak pihak mempertanyakan apakah Ineos mampu membawa Manchester United kembali ke jalur kejayaan atau justru semakin memperburuk kondisi klub.
Tantangan ke depan masih berat, dan hanya waktu yang bisa menjawab apakah investasi Ratcliffe akan membuahkan hasil positif atau menjadi salah satu babak terburuk dalam sejarah klub.










