TVRINews – Gaza
Serangan Udara Israel Lumpuhkan Komandan Tertinggi Sayap Bersenjata di Tengah Gencatan Senjata
Puluhan warga Palestina mengantarkan jenazah pimpinan sayap bersenjata Hamas dalam prosesi pemakaman di jalan-jalan Kota Gaza pada Rabu 27 Mei 2026, sehari setelah militer Israel menewaskannya. upaya berkelanjutan Israel ini untuk mengeliminasi jajaran petinggi kelompok militan tersebut meski kesepakatan gencatan senjata tengah berjalan.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa Mohammad Odeh tewas dalam sebuah serangan terarget pada Selasa 26 Mei malam. Peristiwa ini terjadi hanya berselang satu minggu setelah pendahulunya, Izz Al-Din Al-Haddad, tewas dalam serangan udara Israel yang menyasar sebuah blok apartemen di Gaza.
Rentetan kematian ini menyisakan sangat sedikit figur pemimpin berpengalaman di dalam sayap militer Hamas untuk memimpin kelompok tersebut.
Situasi ini terjadi di saat Israel dan Hamas masih berada dalam posisi buntu (deadlock) dalam negosiasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat guna membahas rencana masa depan Gaza yang diusung Presiden Donald Trump.
Beberapa jam setelah pemakaman Odeh, militer Israel menyatakan telah menargetkan dua milisi Hamas lainnya di Gaza utara, tanpa merilis identitas mereka.
Sementara itu, otoritas kesehatan setempat melaporkan sedikitnya 10 orang tewas, termasuk lima anak-anak, dan 18 lainnya luka-luka akibat serangan Israel yang menghantam sebuah bangunan di Kota Gaza pada Rabu 27 mei malam.
Sumber yang dekat dengan Hamas menyebutkan bahwa Emad Esleem, seorang komandan lokal untuk wilayah Kota Gaza, turut tewas dalam serangan tersebut.
Komitmen Perlawanan di Tengah Duka
Serangan udara yang menargetkan Odeh juga merenggut nyawa istri dan putranya. Para pelayat membawa ketiga jenazah yang telah dibungkus kain kafan putih tersebut melewati deretan bangunan yang hancur akibat operasi militer Israel selama dua tahun terakhir di Gaza.
Salah satu kerabat Odeh, Abu Al-Abd Odeh, menegaskan bahwa operasi militer Israel tidak akan menghentikan perlawanan masyarakat Palestina.
"Perjalanan ini tidak akan berhenti, dan perjuangan rakyat Palestina akan terus berlanjut di semua lini," ujarnya saat berada di sebuah masjid di Kota Gaza selama prosesi pemakaman.
Petugas medis Gaza melaporkan bahwa serangan yang menewaskan Odeh beserta keluarganya juga menyebabkan tiga orang lainnya meninggal dunia dan lebih dari 20 orang luka-luka.
Dampak serangan tersebut menghancurkan lantai atas sebuah bangunan apartemen di lingkungan Rimal, Kota Gaza. Sejak Rabu pagi, petugas penyelamat terus melakukan evakuasi di reruntuhan bangunan untuk mencari kemungkinan adanya korban tambahan.
Strategi Pelemahan Struktur Hamas
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa Odeh merupakan kepala divisi intelijen Hamas saat serangan lintas batas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang Gaza.
Odeh baru ditunjuk sekitar satu minggu lalu untuk menggantikan Haddad, pimpinan komandan bersenjata yang tewas dalam serangan Israel pada 15 Mei.
Sumber-sumber yang dekat dengan Hamas mengonfirmasi bahwa Odeh kemungkinan besar adalah anggota terakhir yang masih hidup dari dewan pimpinan tinggi sayap bersenjata kelompok tersebut.
Michael Kobi, seorang peneliti dari Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) Israel, menilai Hamas kini menghadapi krisis kepemimpinan yang masif.
"Ini adalah bagian dari strategi Israel untuk melemahkan Hamas dan merusak kohesi mereka sebagai sebuah organisasi. Ketika Anda mengeliminasi orang-orang berpengalaman, mereka akan menghadapi masalah besar dalam menjalankan roda organisasi secara efektif," kata Kobi.
Sejak awal perang Gaza, Israel telah menewaskan puluhan pemimpin dan pejabat militer Hamas. Jajaran pejabat tinggi Israel, termasuk Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz, telah bersumpah untuk menangkap atau menewaskan siapa pun yang dianggap terlibat dalam serangan Oktober 2023.
Dalam sebuah pernyataan pasca-kematian Odeh, Katz menegaskan bahwa Hamas tidak akan lagi memegang kendali sipil maupun militer atas Gaza. Ia juga menambahkan bahwa rencana "migrasi sukarela" dari wilayah kantong tersebut akan diterapkan pada waktu dan dengan cara yang tepat.
Di sisi lain, pihak Palestina menolak keras setiap upaya pemindahan paksa dari Gaza. Mereka memandang retorika tersebut sebagai pengulangan peristiwa "Nakba" tahun 1948, sebuah tragedi di mana ratusan ribu warga Palestina diusir atau terpaksa mengungsi selama perang yang menandai berdirinya negara Israel.
Berdasarkan data dari otoritas kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata yang disepakati pada Oktober lalu, serangan Israel telah menewaskan sekitar 900 warga Palestina—angka ini menggabungkan kelompok milisi dan warga sipil tanpa pemisahan kategori. Sementara itu, militer Israel melaporkan empat tentaranya tewas oleh kelompok milisi dalam periode yang sama.
Hamas sendiri tidak pernah merilis data resmi terkait jumlah korban jiwa di pihak pejuang mereka. Israel mengeklaim bahwa serangan-serangan yang diluncurkan pasca-gencatan senjata bertujuan untuk mencegah serangan balasan atau menghentikan pergerakan orang yang mendekati garis demarkasi.
Hingga saat ini, Israel dan Hamas masih terlibat dalam pembicaraan tidak langsung yang berjalan alot mengenai implementasi fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata. Poin-poin krusial dalam perundingan tersebut mencakup pelucutan senjata kelompok Hamas serta penarikan mundur pasukan militer Israel.
Kesepakatan gencatan senjata pada Oktober lalu memposisikan Israel memegang kendali atas lebih dari separuh wilayah Gaza, sementara Hamas hanya mengontrol sebagian kecil wilayah pesisir yang tersisa.










