TVRINews - Kyiv
Korban jiwa berjatuhan di kedua negara seiring menipisnya pasokan sistem antirudal Kyiv.
Intensitas konflik bersenjata di Eropa Timur kembali mencatat eskalasi tajam menyusul rentetan gempuran udara lintas batas yang menghantam infrastruktur sipil maupun strategis.
Berdasarkan data dari otoritas setempat, gelombang serangan menggunakan pesawat nirawak dan rudal balistik dalam kurun waktu kurang dari 48 jam sabtu hingga minggu (22-23 Agustus 2026) telah merenggut nyawa sedikitnya sepuluh orang di berbagai wilayah Ukraina, sementara serangan balasan turut dilaporkan menewaskan tiga warga sipil di wilayah Rusia selatan.
Gempuran masif tersebut terjadi hanya berselang sehari setelah tragedi berdarah yang melanda sebuah pusat perniagaan di Kota Kryvyi Rih, Ukraina tengah. Kepala Pemerintahan Regional Dnipropetrovsk, Oleksandr Hanzha, mengonfirmasi bahwa jumlah korban jiwa akibat hantaman tersebut telah mencapai 16 orang, dengan puluhan lainnya mengalami luka-luka serta proses pencarian terhadap korban hilang masih terus dilanjutkan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam keras pola serangan yang disebutnya sebagai taktik hantaman ganda atau double-tap strike. Menurutnya, gelombang pertama serangan udara disusul oleh terjangan susunan gelombang kedua tepat ketika para petugas penyelamat dan pemadam kebakaran sedang berupaya mengevakuasi korban di lokasi kejadian.
"Kebakaran seluas ribuan meter persegi berhasil dikendalikan, namun upaya kemanusiaan masih berkejaran dengan waktu di tengah ancaman keamanan yang terus membayangi," ujar Zelenskyy melalui keterangan resminya, sebagaimana dikutip Ap News Minggu 23 Agustus 2026.
Di ibu kota Kyiv, hantaman rudal balistik dilaporkan merusak infrastruktur perkeretaapian vital, menelan satu korban jiwa serta melukai sejumlah warga lainnya. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa operasi militer mereka menyasar fasilitas depo lokomotif serta simpul logistik militer guna melemahkan kapasitas pasokan pihak lawan.
Kendati demikian, para pengamat pertahanan menilai bahwa Moskow semakin gencar memanfaatkan celah kerentanan pertahanan udara Ukraina, khususnya menipisnya ketersediaan rudal pencegat buatan Amerika Serikat jenis Patriot yang selama ini diandalkan Kyiv untuk menangkal ancaman balistik jarak jauh.
Di sisi lain, militer Ukraina terus memperluas jangkauan strategi pertahanan ofensifnya dengan melancarkan serangan jarak jauh jauh ke dalam wilayah teritorial Rusia. Sejumlah fasilitas energi dan infrastruktur logistik strategis, termasuk kilang minyak di wilayah Samara yang berjarak sekitar 1.000 kilometer dari garis depan pertempuran, dilaporkan menjadi sasaran empuk pesawat nirawak Ukraina.
Menanggapi eskalasi tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa serangkaian serangan terhadap sasaran di dalam negeri memang berdampak pada kerugian ekonomi. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa langkah militer tersebut tidak akan mengubah jalannya konfrontasi secara keseluruhan maupun memberikan keunggulan strategis bagi pihak lawan.










