TVRINews - Kyiv
Serangan drone bertubi-tubi di pusat perbelanjaan Kryvyi Rih menelan korban jiwa, melukai lebih dari seratus warga sipil, serta memicu operasi penyelamatan darurat lintas wilayah.
Tragedi kemanusiaan kembali mengguncang Ukraina tengah setelah sebuah pusat perbelanjaan di kota Kryvyi Rih menjadi sasaran serangan udara militer Rusia. Insiden mematikan ini menggunakan taktik hantaman ganda atau double-tap strike, di mana gelombang serangan kedua sengaja diarahkan ke lokasi yang sama saat tim darurat sedang berupaya mengevakuasi para korban dari gelombang pertama.
Berdasarkan laporan dari otoritas setempat, jumlah korban tewas akibat peristiwa tersebut telah mencapai 15 orang, termasuk dua korban yang meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Selain korban jiwa, insiden ini juga melukai sekitar 130 orang, yang mencakup puluhan anak-anak. Sejumlah korban luka kini dilaporkan berada dalam kondisi kritis, sementara proses pencarian terus berlanjut di bawah puing-puing bangunan.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengecam keras aksi kekerasan tersebut. Melalui pernyataan resminya, ia menyebut serangan siang hari di kota kelahiran yang juga menjadi pusat aktivitas sipil itu sebagai tindakan yang sangat sinis dan tercela. Rekaman video amatir yang telah diverifikasi memperlihatkan detik-detik ketika wahana nirawak kedua melesat menghantam kompleks perbelanjaan yang saat itu sudah dilalap api di wilayah Dnipropetrovsk.
Sebagai respons cepat atas skala kerusakan yang masif, tim penyelamat dari empat wilayah lain di Ukraina dikerahkan secara mendesak ke lokasi kejadian. Langkah ini diambil untuk mempercepat pencarian warga yang masih hilang dan belum dapat dihubungi oleh pihak keluarga.
Wali Kota Kryvyi Rih, Oleksandr Vilkul, mengungkapkan bahwa proyektil musuh tersebut terbang pada ketinggian yang sangat rendah untuk menghindari sistem deteksi dini. Pihaknya menegaskan bahwa upaya pencarian warga yang terjebak masih menjadi prioritas utama di tengah kekhawatiran bahwa jumlah korban meninggal dunia berpotensi terus bertambah.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kementerian Pertahanan Rusia belum memberikan tanggapan resmi maupun komentar terkait insiden penyerangan di fasilitas publik tersebut.










